Pemerintahan

Lestarikan Budaya Lokal, Wiwin Sumrambah DPRD Jatim Gelar Ludruk di Jombang

1
×

Lestarikan Budaya Lokal, Wiwin Sumrambah DPRD Jatim Gelar Ludruk di Jombang

Sebarkan artikel ini
Wiwin Sumrambah
Tampak Pergelaran Ludruk di Jombang. Foto: Faiz.

BERITABANGSA.ID, JOMBANG – Di tengah gempuran hiburan digital dan budaya modern, kesenian ludruk kembali menggema di tanah kelahirannya. Melalui pertunjukan bertema “Lahirnya Soekarno, Putra Sang Fajar”, Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Wiwin Sumrambah mengajak masyarakat merawat warisan budaya sekaligus menanamkan semangat nasionalisme kepada generasi muda.

Pagelaran ludruk digelar di Lapangan Desa Pulolor, Kecamatan/Kabupaten Jombang, Minggu (28/6/2026) malam. Acara pertunjukan seni budaya tradisional oleh Wiwin Sumrambah tersebut, merupakan kolaborasi DPRD Jawa Timur bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Kebudayaan Jawa Timur.

Pemilihan tema “Putra Sang Fajar” bukan tanpa alasan. Pertunjukan digelar bertepatan dengan bulan Juni, bulan kelahiran sekaligus wafatnya Proklamator RI, Soekarno. Lakon tersebut dibawakan oleh kelompok Ludruk Budhi Wijaya, salah satu grup ludruk yang hingga kini masih aktif melestarikan kesenian tradisional di Kabupaten Jombang.

Dalam sambutannya, Wiwin mengatakan ludruk bukan sekadar hiburan rakyat. Menurutnya, seni tradisional merupakan media yang efektif untuk merawat sejarah, memperkuat karakter bangsa, sekaligus menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal di tengah derasnya arus globalisasi.

“Bapak Soekarno lahir dan meninggal di bulan Juni. Karena itu tema pertunjukan malam ini adalah Lahirnya Soekarno, Putra Sang Fajar. Bulan ini menjadi momentum bagi kita untuk merenungkan, belajar, meneladani, dan meneruskan semangat perjuangan beliau demi Indonesia,” ujar Wiwin dalam sambutannya.

Legislator Fraksi PDI Perjuangan itu menilai makna kemerdekaan tidak hanya berhenti pada bebas dari penjajahan. Menurutnya, masyarakat juga harus mampu merasakan kemerdekaan dalam bidang sosial, ekonomi, budaya hingga kesejahteraan.

Karena itu, ia mengajak masyarakat terus memperkuat semangat gotong royong, menjaga komunikasi antarsesama, serta ikut mengawal perkembangan ekonomi maupun kondisi sosial di lingkungan masing-masing.

“Mari terus bersinergi, bergotong royong, dan menjalin komunikasi yang baik agar kita benar-benar merasakan kemerdekaan dalam kehidupan sosial, ekonomi, budaya, dan bidang lainnya. Yang tidak kalah penting, mari terus mengenalkan budaya tradisional kepada anak-anak dan cucu kita, dimulai dari lingkungan keluarga,” katanya.

Usai sambutan, pertunjukan dibuka secara simbolis melalui prosesi penyerahan pusaka dan tiang bendera kepada para pemain ludruk sebagai tanda dimulainya pementasan.

Wiwin berharap masyarakat tidak hanya menikmati cerita yang disuguhkan di atas panggung, tetapi juga mampu menangkap nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya.

“Jangan hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi tuntunan. Ada banyak pesan moral yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga pertunjukan ini mampu menumbuhkan semangat nasionalisme, terutama bagi generasi muda,” ucap Wiwin menutup sambutannya.

Selain menjadi ruang pelestarian budaya, pagelaran ludruk juga membawa dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Ratusan warga memadati lokasi hingga pertunjukan berakhir menjelang dini hari. Kehadirannya turut menggerakkan roda usaha para pedagang kecil yang berjualan di sekitar arena.

Salah satu penonton, Dewi Sartika, mengaku sengaja datang bersama suami dan kedua anaknya dari Kecamatan Megaluh demi menyaksikan pertunjukan ludruk yang kini semakin jarang digelar.

“Sudah lama tidak melihat ludruk. Apalagi ludruk ini lahir dari Jombang. Saya sengaja datang bersama suami dan anak-anak. Bapak memang senang ludruk, jadi kami bela-belain datang ke sini,” ucapnya.

Berkah juga dirasakan para pelaku UMKM. Diana Kusuma, pedagang gorengan dan minuman di lokasi, mengaku dagangannya laris selama acara berlangsung.

“Alhamdulillah dagangan laris. Banyak anak-anak beli camilan sambil menonton ludruk. Acara seperti ini sangat membantu pedagang kecil seperti kami,” jelas Diana saat ditemui di lapaknya.

Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Sadarestuwati, Ketua DPC PDI Perjuangan Jombang Sumrambah, jajaran Dinas Kebudayaan Provinsi Jawa Timur, hingga instansi terkait dari Pemerintah Daerah Kabupaten Jombang serta berbagai elemen masyarakat lainnya.

Hingga pertunjukan usai menjelang dini hari, antusiasme warga tidak surut. Sebagian besar penonton tetap bertahan menyaksikan seluruh lakon hingga selesai.

“Antusiasme masyarakat dalam menyaksikan ludruk sampai selesai ini, menandai bahwa ludruk masih memiliki tempat di hati masyarakat Jombang. Dan juga menjadi pengingat bahwa warisan budaya lokal akan tetap hidup selama terus dirawat bersama,” singkat Sumrambah.e

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60