BERITABANGSA.ID, BOJONEGORO – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) SRC (Sampoerna Retail Community) ke-18 di Pendapa Malowopati menjadi momentum bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro untuk memperkenalkan identitas budaya daerah sekaligus mendorong penguatan ekonomi lokal.
Dalam acara yang dihadiri ratusan pemilik ritel SRC se-kabupaten, Direktur PT SRC Indonesia Sembilan Romulus Sutanto, Komisi C DPRD Bojonegoro Suprapto, Direktur PT Kareb Alam Sejahtera, Sriyadi Purnomo, Kepala Dinas terkait, serta beberapa tamu penting lainnya.
Dalam pidatonya, Wakil Bupati Nurul Azizah menyoroti dua hal penting, yakni pelestarian Batik Obor Sewu yang terinspirasi perjuangan Mbah Samin Surosentiko serta, peluang kerja sama pedagang SRC dengan Program Gayatri (Gerakan Ayam Petelur Mandiri).
Nurul Azizah memperkenalkan batik yang dikenakannya sebagai Batik Obor Sewu, motif khas Bojonegoro yang lahir dari semangat perjuangan tokoh perlawanan rakyat, Mbah Samin Surosentiko.
Menurutnya, motif tersebut bukan sekadar corak kain, melainkan simbol perjuangan, kemandirian, dan kecintaan terhadap daerah. Batik Obor Sewu, sebagai bukti warisan semangat perjuangan Mbah Samin di Dusun Jepang, Desa Samin, Kecamatan Margomulyo.
Nurul menceritakan perjalanan sejarah Mbah Samin yang lahir di Blora dan tumbuh besar di wilayah Margomulyo, Bojonegoro. Semangat perjuangan tokoh tersebut kemudian menjadi inspirasi lahirnya Batik Obor Sewu yang kini telah dipatenkan sebagai batik khas Bojonegoro.
“Semangat yang terkandung dalam Batik Obor Sewu sejalan dengan semangat membangun dan memberdayakan masyarakat. Karena itu saya berharap ada kolaborasi antara pelaku usaha, mitra SRC, dan pengrajin batik agar kebanggaan terhadap produk lokal semakin kuat,” tutur Wabup.
Dia menilai penguatan identitas budaya daerah harus berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi masyarakat sehingga produk-produk lokal mampu memiliki nilai tambah dan daya saing.
Pedagang SRC diharapkan dapat menyerap Telur Program Gayatri Selain mengangkat potensi budaya, Wakil Bupati juga mengajak para pelaku ritel SRC untuk berperan dalam memperkuat ekonomi masyarakat melalui progam tersebut.
Program yang menjadi salah satu unggulan Pemkab Bojonegoro tersebut memberikan bantuan ayam petelur kepada keluarga penerima manfaat guna meningkatkan pendapatan dan kemandirian ekonomi.
Dalam kesempatan itu, Nurul meminta agar kebutuhan telur para pedagang SRC dapat dikoneksikan dengan para peternak penerima manfaat Program Gayatri.
Menurut data yang disampaikan dalam forum tersebut, harga telur hasil Program Gayatri berada pada kisaran Rp24.000 per kilogram, lebih rendah dibandingkan harga pasokan telur dari luar daerah yang selama ini diterima sebagian pedagang, yakni sekitar Rp26.000 per kilogram.
“Kalau kebutuhan toko-toko SRC bisa dipenuhi oleh peternak lokal, maka manfaat ekonominya akan kembali ke masyarakat Bojonegoro. Ini menjadi bentuk kolaborasi yang saling menguntungkan,” katanya.
Wabup menegaskan bahwa penguatan ekonomi daerah tidak cukup hanya melalui program bantuan, tetapi juga harus diikuti dengan penciptaan pasar yang jelas bagi produk masyarakat.
Kolaborasi Budaya dan Ekonomi Lokal
Melalui forum HUT SRC ke-18 tersebut, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro berharap terbangun sinergi antara pelaku usaha ritel, UMKM, pengrajin batik, hingga peternak lokal.
Dengan memadukan pelestarian budaya melalui Batik Obor Sewu dan penguatan ekonomi masyarakat melalui Program Gayatri, Bojonegoro diharapkan mampu menciptakan ekosistem usaha yang saling mendukung dan berkelanjutan.
Selain mengangkat potensi budaya, Wakil Bupati juga mengajak para pelaku ritel SRC untuk berperan dalam memperkuat ekonomi masyarakat melalui penyerapan hasil Program Gayatri.
Program yang menjadi salah satu unggulan Pemkab Bojonegoro tersebut memberikan bantuan ayam petelur kepada keluarga penerima manfaat guna meningkatkan pendapatan dan kemandirian ekonomi.
Dalam kesempatan itu, Nurul meminta agar kebutuhan telur para pedagang SRC dapat dikoneksikan dengan para peternak penerima manfaat Program Gayatri.
Menurut data yang disampaikan dalam forum tersebut, harga telur hasil Program Gayatri berada pada kisaran Rp24.000 per kilogram, lebih rendah dibandingkan harga pasokan telur dari luar daerah yang selama ini diterima sebagian pedagang, yakni sekitar Rp26.000 per kilogram.
“Kalau kebutuhan toko-toko SRC bisa dipenuhi oleh peternak lokal, maka manfaat ekonominya akan kembali ke masyarakat Bojonegoro. Ini menjadi bentuk kolaborasi yang saling menguntungkan,” katanya.
Pemkab juga berharap kolaborasi Budaya dan Ekonomi Lokal melalui forum HUT SRC ke-18 tersebut, akan terbangun sinergi antara pelaku usaha ritel, UMKM, pengrajin batik, hingga peternak lokal.
Dengan memadukan pelestarian budaya melalui Batik Obor Sewu dan penguatan ekonomi masyarakat melalui Program Gayatri, Bojonegoro diharapkan mampu menciptakan ekosistem usaha yang saling mendukung dan berkelanjutan.
Penulis: Suyati


















