“Surat resmi sudah masuk ke Dinas PU. Jalan ini sudah menjadi prioritas nomor satu dalam usulan pembangunan. Tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut yang jelas. Padahal ini jalan kabupaten dan sering menyebabkan kecelakaan,” ungkap salah satu perangkat desa yang enggan disebutkan namanya.
Kekecewaan warga akhirnya memuncak. Sebagai bentuk protes sekaligus peringatan bagi pengguna jalan, masyarakat beramai-ramai menanam pohon pisang di titik-titik jalan berlubang yang dianggap membahayakan.
Aksi tersebut menjadi simbol bahwa masyarakat merasa tidak lagi cukup hanya dijanjikan perbaikan.
“Kalau tidak ditanami pohon pisang, bisa jadi pengendara tidak melihat lubangnya. Ini bukan untuk merusak pemandangan, tapi untuk menyelamatkan nyawa,” kata seorang warga Klanting yang juga tidak mau namanya muncul dipemberitaan.
Pengamatan Kebijakan Publik Lumajang, Ahmad Nurhuda, menilai fenomena jalan berlubang yang terus berulang menunjukkan perlunya evaluasi terhadap pola pemeliharaan jalan yang selama ini diterapkan.

“Pemeliharaan berkala memang penting untuk menjaga kemantapan jalan. Namun ketika kerusakan terjadi berulang dan memakan korban, pemerintah harus berani melakukan rehabilitasi atau rekonstruksi jalan secara menyeluruh. Jangan sampai anggaran habis untuk tambal sulam yang tidak memberikan solusi permanen,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keselamatan pengguna jalan harus menjadi prioritas utama dibanding sekadar mempertahankan angka kemantapan jalan secara administratif.
Sementara itu, pihak UPTD PJJ menyebut kegiatan Ngapling merupakan program rutin untuk menjaga kondisi jalan tetap layak dilalui dan meminimalisasi risiko kecelakaan. Namun di lapangan, masyarakat berharap pemerintah daerah tidak hanya fokus pada penambalan sementara, melainkan segera merealisasikan pembangunan dan peningkatan kualitas jalan yang sudah lama diusulkan.
Kini pertanyaan publik semakin keras terdengar: sampai kapan jalan-jalan berlubang di Lumajang hanya ditambal, sementara korban terus berjatuhan dan keluhan masyarakat terus menumpuk?
Di tengah berbagai program pemeliharaan yang berjalan, warga menunggu satu hal yang lebih nyata: perbaikan jalan yang benar-benar tuntas, bukan sekadar tambal sulam yang hilang saat musim hujan datang.


















