BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Tepat 20 tahun sejak semburan lumpur melanda sebagian wilayah Kabupaten Sidoarjo pada 29 Mei 2006, dampak ekologisnya masih menjadi perhatian serius kalangan akademisi.
Selama dua dekade terakhir, material lumpur dialirkan menuju Sungai Porong sebagai bagian dari upaya penanganan luapan. Namun, proses tersebut memicu perubahan besar terhadap karakteristik lingkungan dan ekosistem perairan di kawasan hilir.
Pakar ekotoksikologi dan fisiologi hewan dari Departemen Biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Profesor Doktor Dewi Hidayati, mengungkapkan bahwa Sungai Porong menerima beban efluen material padat dalam volume sangat besar tanpa melalui proses pengolahan terlebih dahulu.
Menurut Dewi, aliran lumpur yang didominasi tanah liat lembut secara perlahan mengubah struktur dasar sungai. Substrat alami berupa pasir dan kerikil kini tertutup hamparan lumpur pekat yang menyebabkan sedimentasi masif dan peningkatan Total Suspended Solids (TSS) secara ekstrem.
“Perubahan substrat ini memicu lonjakan kekeruhan air yang sangat signifikan di sepanjang aliran Sungai Porong,” ujarnya.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap keberlangsungan hidup biota air. Berdasarkan hasil analisis mikroskopik, partikel lumpur berukuran kurang dari 10 mikron ditemukan menempel kuat pada filamen insang ikan hingga menyebabkan penyumbatan sistem respirasi.
Paparan jangka panjang itu memicu kerusakan jaringan insang berupa hiperplasia hingga nekrosis sel. Gangguan fisiologis tersebut membuat kemampuan ikan menyerap oksigen menurun drastis.
“Kerusakan insang menjadi indikator biologis paling nyata dari tekanan lingkungan akibat sedimentasi lumpur,” paparnya.
Tak hanya menyerang organ pernapasan, kontaminasi lumpur juga merusak struktur pelindung tubuh ikan. Melalui pengamatan menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM), ditemukan deformasi mikrostruktur sisik pada sejumlah spesies ikan di kawasan hilir.
Kerusakan terjadi pada sel penempel atau seferul yang menyebabkan sisik mudah terlepas dan rentan memicu infeksi mikroorganisme patogen.
“Deformasi mikrostruktur ini memperlihatkan bahwa tekanan lingkungan terjadi hingga tingkat seluler,” terang Dewi.
Meski mengalami tekanan ekologis berat, hasil biomonitoring menunjukkan adanya proses adaptasi alami pada ekosistem Sungai Porong.
Sejumlah ikan lokal yang sensitif terhadap tingkat kekeruhan perlahan menghilang dan digantikan spesies yang lebih toleran terhadap habitat berlumpur.
Saat ini, wilayah hilir lebih banyak didominasi ikan keting (Mystus gulio), belanak (Mugil cephalus), dan beloso (Saurida tumbil) yang memiliki daya adaptasi tinggi terhadap kondisi perairan ekstrem.
“Suksesi alami ini menunjukkan bahwa ekosistem sedang membentuk keseimbangan baru, meski dengan tingkat keanekaragaman yang menurun,” ungkapnya.
Di sektor perikanan tambak, kondisi kawasan muara relatif masih aman. Dewi menjelaskan, keberadaan bentang daratan alami di sekitar wilayah tambak berfungsi sebagai penyaring mekanis yang menghambat masuknya material lumpur secara langsung.
Fungsi alami tersebut membuat komoditas budidaya seperti udang dan ikan tambak yang berada cukup jauh dari titik semburan masih tergolong layak konsumsi.
“Bentang alam menjadi pelindung ekologis penting bagi kawasan pertambakan masyarakat,” katanya.
Selain pencemaran air, kawasan sekitar semburan juga menghadapi ancaman polusi udara akibat emisi gas yang mengandung metana dan belerang.
Di sisi lain, hasil analisis kimia air menunjukkan tingginya kandungan logam berat seperti aluminium dan besi yang telah melampaui ambang baku mutu lingkungan.
Menurut Dewi, logam aluminium berpotensi sangat toksik apabila tingkat keasaman atau pH air berubah menjadi lebih asam.
“Kondisi ini berbahaya karena dapat meningkatkan daya racun logam terhadap organisme akuatik,” jelasnya.
Kajian ekologis yang dilakukan tim ITS juga menemukan kesenjangan kondisi lingkungan yang sangat kontras antara wilayah hulu dan hilir Sungai Porong.
Pada stasiun pengamatan di wilayah hulu yang bebas lumpur, kualitas habitat masih tergolong baik dengan kondisi air stabil serta kesehatan ikan yang normal.
Sebaliknya, kawasan hilir menunjukkan degradasi ekologis serius sehingga hanya spesies tertentu yang mampu bertahan hidup.
“Wilayah hilir kini berada pada kategori habitat terbatas bagi sebagian besar biota air,” tegas Dekan Fakultas Sains dan Analitika Data ITS tersebut.
Dewi menekankan, seluruh data biologis yang diperoleh melalui riset komparatif ini dapat menjadi sistem peringatan dini bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pemulihan lingkungan jangka panjang.
Menurutnya, pendekatan biomonitoring berbasis kesehatan ikan penting diterapkan secara terintegrasi untuk menjaga kualitas Sungai Porong yang selama ini menjadi sumber air utama bagi masyarakat Sidoarjo dan sekitarnya.
Pemantauan berkelanjutan terhadap kualitas air, sedimentasi, dan kesehatan biota dinilai sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-14 tentang Kehidupan di Bawah Air yang menitikberatkan pada pelestarian ekosistem perairan dan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.


















