BERITABANGSA.ID, LUMAJANG – Suasana hangat penuh keakraban terasa dalam kegiatan halal bihalal komunitas Protolan Pemuda Anshor (Propesor) yang digelar di akhir bulan Syawal 1447 Hijriah. Kegiatan yang dihadiri tokoh-tokoh Nahdliyin itu tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi ruang diskusi, curhat, hingga memperkuat semangat kebersamaan di tengah masyarakat.
Menariknya, halal bihalal kali ini hadir dengan nuansa berbeda. Para tamu disuguhi telur Arab, kopi Arab, hingga madu hutan yang menjadi simbol kesederhanaan sekaligus representasi kedekatan dengan masyarakat bawah.
“Ini memang sengaja dibuat sederhana, tetapi sarat makna. Kita ingin menunjukkan bahwa Propesor tetap konsisten bersama masyarakat bawah. Suguhan telur Arab, kopi Arab, dan madu hutan itu bukan sekadar jamuan, tetapi ada pesan bahwa kebersamaan harus dibangun dari hal-hal sederhana,” ujar Prof Aries Hariyanto kepada seluruh undangan yang hadir, Minggu (19/4/2026) siang tadi.
Menurut Prof Aries, halal bihalal menjadi momentum penting untuk menyatukan frekuensi berpikir dan bergerak. Ia menilai, berkumpul dengan frekuensi yang sama menjadi modal penting agar kebersamaan tidak hanya berhenti pada seremonial.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita berkumpul dengan frekuensi yang sama. Dari situ akan lahir semangat, gagasan, dan gerakan yang bermanfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, KH Sadeli yang merupakan senior di komunitas Propesor menegaskan bahwa kegiatan tersebut menjadi bukti nyata semangat kebersamaan yang terus dijaga.
“Adanya kegiatan ini menunjukkan semangat kebersamaan itu masih kuat. Ini gerakan yang lahir dari alumni Ansor dan harus terus dijaga,” kata KH Sadeli Rois.
Ia juga mengajak seluruh elemen Nahdliyin untuk menjadikan momentum halal bihalal sebagai penguat tali silaturahmi.
“Mari betul-betul menjadikan ini sebagai tali silaturahmi Nahdliyin. NU ke depan harus membawa rahmat bagi masyarakat Lumajang pada umumnya. Jangan hanya berkumpul, tetapi juga menjadi sarana komunikasi, tempat curhat, dan tempat belajar menjadi orang yang bermanfaat,” tambahnya.
Koordinator Propesor, Subchan Affandi, mengungkapkan bahwa gagasan halal bihalal tersebut sebenarnya telah dirancang sejak sebelum Ramadan.
“Awalnya kegiatan ini digagas di rumah sahabat H Hasanuddin di Desa Sumberejo, Kecamatan Sukodono sebelum bulan puasa lalu. Dari pertemuan itu kemudian muncul ide untuk menggelar halal bihalal di akhir bulan Syawal 1447 Hijriah saat ini,” terang Subchan.
Ia mengaku bersyukur karena setelah sekian tahun, komunitas Propesor akhirnya dapat kembali berkumpul dalam suasana yang penuh kekeluargaan.
“Alhamdulillah, setelah sekian tahun akhirnya kita bisa berkumpul lagi. Ke depan semoga bisa dilaksanakan di tempat berbeda dengan nuansa yang berbeda pula,” bebernya.
Tidak berhenti pada acara ramah tamah, kegiatan halal bihalal tersebut juga dilanjutkan dengan diskusi berbagai isu sosial, keumatan, dan masa depan Nahdlatul Ulama di Lumajang.
Diskusi itu menjadi penanda bahwa halal bihalal bukan hanya soal saling memaafkan, tetapi juga menjadi ruang bertukar gagasan dan menyusun langkah bersama agar keberadaan komunitas Propesor benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat.


















