Terkini

Ribuan Warga Jombang Bersama Wiwin Sumrambah Melepas Rindu Budaya Jawa Melalui Pertunjukan Wayang Kulit

10
×

Ribuan Warga Jombang Bersama Wiwin Sumrambah Melepas Rindu Budaya Jawa Melalui Pertunjukan Wayang Kulit

Sebarkan artikel ini
Wiwin Sumrambah
Tampak Wiwin Sumrambah saat menyerahkan secara simbolis wayang kulit kepada dalang. Foto: Faiz Beritabangsa.id.

BERITABANGSA.ID, JOMBANG – Suasana tak biasa terlihat jelas di kawasan situs petirtaan Sumberbeji, Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, pada Sabtu (11/04/2026) malam. Halaman bangunan purbakala yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional tersebut, dipenuhi lautan manusia yang sedang menikmati pertunjukan seni warisan budaya jawa.

Ribuan warga memadati setiap sudut area, dari halaman petirtaan hingga ruas jalan di depannya. Di tengah kerlip lampu dan semilir angin malam, satu per satu gamelan mulai ditabuh, mengalun pelan, seolah memanggil kembali denyut budaya yang lama dirindukan.

Di sisi lain, deretan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) turut meramaikan suasana. Aroma jajanan tradisional bercampur dengan hiruk pikuk percakapan warga. Ya, malam itu terdapat pentas pertunjukan wayang kulit.

Pagelaran wayang kulit tersebut digelar oleh Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Timur, Wiwin Sumrambah, bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur. Dalang Ki Anom Sakti Aji membawakan lakon Tirta Perwitasari, dengan sentuhan humor dari bintang tamu Jo Klitik dan Klutuk yang disambut hangat penonton.

Dalam sambutannya, Wiwin menegaskan pemilihan lokasi di kawasan petirtaan bukan tanpa alasan. Ia ingin mengingatkan masyarakat bahwa warisan leluhur bukan hanya sekadar cerita masa lampau, melainkan juga bukti kejayaan peradaban.

“Petirtaan Sumberbeji ini bukan sekadar situs budaya, tetapi bukti bahwa nenek moyang kita memiliki peradaban yang luar biasa. Ada teknologi yang sudah diterapkan sejak masa kerajaan. Ini menjadi pelajaran bagi kita untuk bangga terhadap leluhur,” ujarnya di hadapan ribuan warga.

Ia juga menjelaskan, wayang kulit dipilih karena sarat dalam nilai kehidupan. Di balik setiap lakon yang dimainkan, tersimpan pesan moral yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

“Wayang ini lengkap. Ada nilai, norma, dan tuntunan hidup. Sementara kehadiran Jo Klitik dan Klutuk menjadi pelengkap hiburan agar suasana lebih hidup dan mengundang tawa,” kata Wiwin Sumrambah, Wakil Rakyat Jatim asal Jombang dari Fraksi PDI-Perjuangan.

Menurutnya, pagelaran semacam ini diharapkan tidak berhenti sebagai hiburan semata. Lebih dari itu, masyarakat diajak untuk memetik makna dan menjadikannya sebagai refleksi dalam menjalani kehidupan.

“Mari kita jaga dan lestarikan budaya leluhur. Pasti ada manfaatnya untuk kehidupan ke depan. Terima kasih atas antusiasme masyarakat malam ini, termasuk UMKM yang ikut menggeliat,” tuturnya.

Usai sambutan, Wiwin secara simbolis menyerahkan wayang kepada dalang. Tepuk tangan warga pecah, bersamaan dengan denting gamelan yang semakin menguat. Layar putih pun mulai menampilkan bayang-bayang tokoh pewayangan, menandai dimulainya pertunjukan.

Waktu berjalan tanpa terasa. Hingga larut malam, bahkan menjelang pagi, warga masih setia bertahan. Sebagian duduk bersila, sebagian lain berdiri atau menyaksikan dari balik layar. Tak sedikit pula para lansia yang menikmati pertunjukan sambil selonjor, larut dalam alur cerita.

Di antara mereka, Sanipan (57), tampak asyik menonton dengan sarung yang dikalungkan di lehernya. Ia mengaku telah lama merindukan suasana seperti ini.

“Sudah lama tidak melihat wayang kulit. Dulu sering, dan senang sekali mengikuti ceritanya. Sekarang seperti diingatkan lagi, bisa jadi penyemangat hidup ke depan,” ujarnya singkat.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60