BERITABANGSA.ID, LUMAJANG – Gelaran lomba musik patrol tradisional dalam rangka Festival Ramadan Tompokersan (Fesratom) 2026 sukses menyedot perhatian masyarakat.
Ratusan warga memadati kawasan Embong Kembar di Jalan Gubernur Suryo, Kelurahan Tompokersan, untuk menyaksikan lomba musik patrol sekaligus berburu kuliner Ramadan pada stand yang sudah disiapkan oleh panitia dan pelaku UMKM.
Sejak menjelang waktu berbuka hingga malam hari, kawasan festival berubah menjadi pusat keramaian baru di Kota Lumajang. Dentuman alat musik patrol yang dimainkan puluhan kelompok peserta membuat suasana Ramadan terasa lebih semarak.
Di sepanjang lokasi acara, puluhan stand kuliner dipadati pengunjung yang berburu takjil, makanan siap saji, hingga minuman segar untuk berbuka puasa. Aroma makanan khas Ramadan bercampur dengan riuh tepuk tangan penonton yang menyaksikan kreativitas peserta patrol.
Ketua Panitia Fesratom 2026, Sudarmoko, mengatakan kegiatan lomba patrol ini sengaja digelar untuk menghidupkan kembali ruang kebudayaan sekaligus ekonomi rakyat selama bulan Ramadan.
“Kegiatan ini sebenarnya baru pembuka saja. Istilahnya kami tes ombak dulu untuk melihat antusias masyarakat,” ujar Sudarmoko yang juga dikenal sebagai pemilik Rajawali Sound System, saat ditemui di lokasi acara, Kamis (12/3/2026) tadi malam.
Menurutnya, respon masyarakat ternyata jauh di luar perkiraan panitia. Ratusan warga datang setiap malam untuk menikmati pertunjukan patrol sekaligus berbelanja di stand bazar yang telah disiapkan.
“Alhamdulillah respon masyarakat sangat luar biasa. Banyak yang datang menonton, sekaligus jajan kuliner di stand UMKM. Ini bukti kalau ruang ekonomi rakyat selama Ramadan memang sangat dibutuhkan,” katanya.
Bahkan, kata Sudarmoko, beberapa warga sempat berseloroh karena merasa acara lomba patrol berlangsung terlalu singkat.
“Banyak yang nyeletuk ke panitia, ‘kok cuma sebentar, kurang lama’. Itu justru jadi semangat bagi kami untuk menggelar acara yang lebih besar lagi di tahun berikutnya,” ujarnya.
Lomba patrol ini sendiri akan berlangsung selama sepekan terakhir dan menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian Festival Ramadan Tompokersan 2026. Panitia merencanakan rangkaian festival akan mencapai puncak penutupan pada Selasa, 17 Maret 2026.
Antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa kesenian patrol sebagai budaya tradisional masih memiliki tempat kuat di tengah masyarakat, meskipun di era modern yang didominasi hiburan digital.
Hampir semua kelompok peserta menampilkan fashion unik serta aransemen musik yang kreatif, memadukan alat musik tradisional dengan sentuhan modern tanpa meninggalkan ciri khas patrol.
Sejumlah pengunjung mengaku sengaja datang bersama keluarga untuk menikmati suasana Ramadan sekaligus mengenalkan budaya patrol kepada anak-anak mereka.
Panitia berharap kegiatan seperti ini dapat terus berkembang menjadi agenda tahunan yang lebih besar di Kota Lumajang, sekaligus menjadi ruang ekspresi bagi generasi muda.
Sudarmoko menilai peran anak muda sangat penting dalam menjaga keberlangsungan kesenian tradisional agar tidak tergerus zaman.
“Kami berharap budaya patrol ini tetap hidup dan terus digerakkan oleh kawula muda, terutama generasi Z, supaya kesenian tradisional tetap langgeng dan menjadi kebanggaan masyarakat Lumajang,” pungkasnya.
Dengan ramainya penonton dan tingginya transaksi UMKM di lokasi festival, Fesratom 2026 menjadi bukti bahwa perpaduan budaya, ekonomi rakyat, dan kreativitas pemuda mampu menciptakan ruang kebersamaan yang kuat di tengah masyarakat selama bulan Ramadan tahun ini.


















