Pendidikan

Ramadan Festival ITS Hidupkan Spirit Nuzulul Qur’an, Menag Soroti Harmoni Agama dan Sains

9
×

Ramadan Festival ITS Hidupkan Spirit Nuzulul Qur’an, Menag Soroti Harmoni Agama dan Sains

Sebarkan artikel ini
ITS
Menteri Agama RI Prof Dr KH Nasaruddin Umar MA saat menyampaikan materi makna Al-Qur'an Makrokosmos dan Mikrokosmos pada Ramadan Festival yang digelar RDK ITS di Masjid Manarul Ilmi ITS.

BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Malam Nuzulul Qur’an selalu menjadi momen reflektif bagi umat Islam untuk kembali mendekatkan diri pada Al-Qur’an. Kali ini, Ramadan Festival digelar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui Ramadan di Kampus (RDK) 2026 di Masjid Manarul Ilmi ITS pada Jumat (6/3/2026) dengan menghadirkan Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, sebagai pembicara utama.

Mengusung tema Menemukan Kembali Energi Kehidupan melalui Cahaya Nuzulul Qur’an, acara tersebut dipadati mahasiswa, dosen, dan masyarakat umum yang ingin mendalami makna turunnya Al-Qur’an dalam perspektif yang lebih luas.

Lampu-lampu masjid yang temaram berpadu dengan lantunan ayat suci menghadirkan suasana khusyuk sekaligus reflektif.

Dalam tausiyahnya, Nasaruddin mengajak para mahasiswa memandang Al-Qur’an tidak hanya sebagai kitab suci dalam bentuk mushaf yang dibaca saat ibadah. Ia menekankan bahwa Al-Qur’an memiliki dimensi makna yang jauh lebih luas dan mencakup seluruh fenomena alam semesta.

Menurutnya, alam raya sesungguhnya adalah representasi dari ayat-ayat Tuhan yang dapat dipelajari manusia melalui ilmu pengetahuan. Pepohonan, pergerakan planet, hingga keteraturan kosmos merupakan bagian dari tanda kebesaran Ilahi yang seharusnya dibaca dengan pendekatan ilmiah.

Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an dapat dipahami dalam dua dimensi utama. Pertama, Al-Qur’an dalam bentuk mushaf yang menjadi pedoman hidup manusia. Kedua, Al-Qur’an dalam bentuk makrokosmos yang tercermin melalui alam semesta.

Melalui dua dimensi tersebut, manusia diajak memahami bahwa wahyu dan realitas alam tidak berada dalam ruang yang terpisah. Sebaliknya, keduanya saling melengkapi dalam membangun peradaban.

“Kita tidak hanya mengimani mushaf Al-Qur’an, tetapi juga harus membaca tanda-tanda kebesaran Allah yang terdapat di alam semesta,” ujar Nasaruddin di hadapan para jamaah.

Pandangan tersebut dinilai relevan dengan dunia kampus, terutama bagi mahasiswa yang setiap hari bergelut dengan riset, eksperimen, dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Dalam perspektif ini, aktivitas akademik juga dapat menjadi bagian dari proses membaca ayat-ayat Tuhan yang terhampar di alam.

Imam Besar Masjid Istiqlal itu juga menyinggung pentingnya metode berpikir dalam memahami ajaran agama, terutama melalui pendekatan ilmu ushul fiqih.

Menurutnya, disiplin ilmu tersebut menjadi jembatan penting dalam menafsirkan teks agama agar tetap relevan dengan dinamika zaman.

Ia mencontohkan pengalaman masyarakat global saat menghadapi pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu. Pada masa itu, masyarakat dianjurkan menjaga jarak guna mencegah penularan virus.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60