BERITABANGSA.ID, JAKARTA – Hampir separuh penduduk Indonesia tercatat mengalami dehidrasi ringan. Data The Indonesian Regional Hydration Study (THIRST) menunjukkan 46,1 persen masyarakat berada dalam kondisi tersebut.
Angkanya bahkan lebih tinggi pada kelompok remaja, yakni 49,5 persen, dibandingkan orang dewasa 42,5 persen. Fakta ini memperlihatkan persoalan hidrasi bukan sekadar soal pengetahuan, melainkan konsistensi dalam praktik sehari-hari.
Dalam konteks itu, Aquviva, merek air minum dalam kemasan dari WINGS Food, meluncurkan kampanye bertajuk 3–2–1 Aquviva di Jakarta, Rabu, (12/2/2025).
Kampanye ini menawarkan panduan sederhana: tiga botol Aquviva ukuran 700 mililiter setara dengan dua liter air per hari. Satu hari, pasti sejuknya.
Kebutuhan cairan orang dewasa, sebagaimana dipublikasikan dalam sejumlah kajian di National Library of Medicine, umumnya berada pada kisaran dua hingga 2,5 liter per hari.
Namun, dalam praktiknya, banyak individu belum memenuhinya secara konsisten. Pola hidup urban, aktivitas padat, hingga kebiasaan menunda minum menjadi faktor yang kerap diabaikan.
Dokter Spesialis Gizi Klinik dr. Cut M. Hafiah, mengatakan tantangan menjaga hidrasi tidak hanya terletak pada jumlah cairan, tetapi juga keteraturan waktu konsumsi.
Tubuh, kata dia, memiliki mekanisme keseimbangan cairan yang bergantung pada distribusi asupan sepanjang hari.
“Ketika asupan tidak merata, tubuh bisa mengalami penurunan kenyamanan dan performa ringan seperti cepat lelah atau menurunnya konsentrasi. Pada periode puasa, perencanaan hidrasi menjadi semakin penting karena waktu konsumsi terbatas,” ujarnya dalam diskusi peluncuran kampanye.
Ia menilai pendekatan sederhana seperti 3–2–1 dapat membantu membentuk kebiasaan minum yang lebih terstruktur. Terutama saat Ramadan, ketika pola makan dan minum berubah drastis, strategi praktis lebih mudah diterapkan ketimbang anjuran yang bersifat normatif.
Senior Brand Manager Aquviva, Devi Chrisnatalia, menyebut kampanye ini sebagai bagian dari komitmen perusahaan mendorong gaya hidup seimbang. Menurut dia, konsep tiga botol 700 mililiter dipilih karena mudah diingat dan aplikatif.
“Kami ingin menghadirkan panduan hidrasi yang sederhana dan praktis. Dengan pola minum yang lebih teratur, masyarakat dapat menjaga keseimbangan cairan tubuh dan tetap nyaman beraktivitas, termasuk saat berpuasa,” katanya.
Aquviva mengusung Teknologi 7 Tahap Nano Purifikasi, yang diklaim pertama di Indonesia. Teknologi ini dirancang untuk menjaga kemurnian air sekaligus mempertahankan kandungan mineral alaminya.
Perusahaan menyebut pendekatan ini sebagai upaya menghadirkan air mineral dengan kemurnian optimal dan mineral seimbang.
Selain aspek kualitas produk, perusahaan juga menyinggung komitmen keberlanjutan. AQUVIVA mendorong konsumen berperan aktif dalam pengelolaan sampah botol plastik, sejalan dengan agenda tanggung jawab lingkungan Wings Group.
Persoalan hidrasi kerap dianggap remeh. Padahal, data THIRST menunjukkan disparitas geografis yang mencolok. Sebanyak 24,75 persen remaja di dataran tinggi dan 41,70 persen remaja di dataran rendah mengalami dehidrasi ringan.
Angka itu memperlihatkan bahwa faktor lingkungan dan kebiasaan turut memengaruhi kondisi cairan tubuh.
Di tengah meningkatnya kesadaran publik terhadap kesehatan preventif, kampanye seperti 3–2–1 mencoba mengambil ruang edukasi yang lebih praktis.
Alih-alih menekankan angka kebutuhan harian yang abstrak, pendekatan berbasis kemasan dinilai lebih mudah diinternalisasi.
Pada akhirnya, hidrasi bukan sekadar memenuhi angka dua liter per hari. Ia berkaitan dengan ritme, disiplin, dan kesadaran tubuh.
Dalam ruang itulah kampanye ini berupaya menempatkan diri: menjembatani jarak antara pengetahuan dan kebiasaan.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai kampanye ini, publik dapat mengakses kanal digital resmi Aquviva


















