BERITABANGSA.ID, MALANG – Ribuan jamaah memadati Stadion Gajayana, Kota Malang, Minggu, (8/2/2026). Sejak pagi, kawasan stadion telah dipenuhi lantunan dzikir, tahlil, dan selawat dalam Mujahadah Kubro Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU).
Kegiatan ini menjadi bagian penting dari rangkaian peringatan satu abad berdirinya NU dengan tema Memperkokoh Jam’iyyah, Tradisi, dan Kontribusi dalam Mengemban Peradaban.
Mujahadah Kubro tersebut dihadiri Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto bersama jajaran Menteri Kabinet Merah Putih.
Turut hadir Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, pimpinan lembaga tinggi negara seperti Ketua MPR RI, Panglima TNI, dan Kapolri, serta para pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
Tampak di antaranya Rais ‘Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum MUI KH. Anwar Iskandar, Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur KH. Anwar Mansyur, Ketua PWNU Jawa Timur KH. Abdul Hakim Mahfudz, serta Sekretaris Jenderal PBNU Syaifullah Yusuf yang juga menjabat Menteri Sosial RI.
Hadir pula para kiai, ulama, habaib, tokoh masyarakat, dan warga Nahdliyin dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Rangkaian acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh qari terbaik MTQ Nasional 2023, dilanjutkan laporan Ketua PWNU Jawa Timur KH. Abdul Hakim Mahfudz.
Suasana khidmat terasa ketika ribuan jamaah mengikuti doa dan munajat yang dipimpin para kiai dan ulama.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan rasa terima kasih atas kehormatan dapat hadir di tengah keluarga besar Nahdlatul Ulama. Ia mengaku merasakan ketenangan, kedamaian, dan optimisme saat berada bersama warga NU.
Menurut Presiden, satu abad perjalanan NU bukan sekadar catatan usia organisasi, melainkan bukti kontribusi nyata dalam menjaga persatuan bangsa, merawat perdamaian, dan memperkuat stabilitas nasional.
Ia menegaskan bahwa kemakmuran hanya bisa tumbuh dalam suasana damai dan persatuan yang kokoh.
Presiden juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus merawat kebersamaan. Bangsa yang kuat dan maju, kata dia, mensyaratkan para pemimpinnya untuk rukun, bersatu, dan sepenuhnya mengabdi bagi kepentingan rakyat.
Di sela kegiatan, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Akhmad Sruji Bahtiar menilai Mujahadah Kubro Satu Abad NU sebagai momentum strategis untuk meneguhkan nilai-nilai keagamaan sekaligus kebangsaan.
Ia menyebut NU telah berperan besar dalam menjaga harmoni kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara.
Tradisi mujahadah, menurutnya, bukan hanya penguatan spiritual, tetapi juga sarana memperkuat komitmen kolektif dalam merawat persatuan dan kedamaian di tengah kemajemukan Indonesia.
Kementerian Agama, kata Akhmad Sruji Bahtiar, akan terus mendukung tradisi keagamaan yang menanamkan moderasi beragama, cinta tanah air, serta nilai Islam rahmatan lil alamin. Nilai-nilai tersebut dinilai semakin relevan dalam menjawab tantangan sosial, politik, dan kebudayaan bangsa ke depan.
Seluruh rangkaian Mujahadah Kubro berlangsung tertib dan lancar berkat sinergi panitia, relawan, serta aparat keamanan.
Acara ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa, kesejahteraan masyarakat, dan terwujudnya Indonesia yang damai, religius, dan berkeadaban.
>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id


















