BERITABANGSA.ID, BOJONEGORO – Kisruh Olimpiade Matematika, ditindaklanjuti Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro dengan menggelar pertemuan bersama sejumlah pihak terkait dan meminta pihak panitia segera mengembalikan dana peserta, Selasa (9/12/2025).
Pertemuan dihadiri Wakil Bupati Bojonegoro, Asisten I, Djoko Lukito, Kepada Dinas Pendidikan, Anwar Mukhtadho beserta staf, perwakilan kantor Kemenag, Kapolsek Kota dan jajaran anggota, Ita Puspitasari selaku pemilik dan ketua panitia penyelenggara dari Saryta Management didampingi penasehat hukum
Pertemuan ini untuk menyelesaikan permasalahan biaya pendaftaran peserta lantaran gagal mengikuti olimpiade. Pertanggungjawaban sekaligus kesediaan dari pihak penyelenggara olimpiade matematika, Saryta (SR) Management untuk mengembalikan uang pendaftaran.
Di hadapan Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, Ketua Panitia Ita Puspitasari menceritakan kericuhan yang berujung pemberhentian pasca pengumuman juara di level/sesi pertama.
Mengetahui ricuh yang tidak bisa dihindari dan khawatir diserang massa, dia berusaha mencari pengamanan dan datang ke kantor Polsek Bojonegoro.
Di sana, dia menyampaikan sejumlah hal terkait kericuhan yang terjadi di Gedung Serba Guna.
Ita Puspitasari mengaku akibat kejadian ricuh acara tersebut banyak berkas serta barang milik panitia yang hilang. Dan perihal pengembalian dana dia mengaku telah dalam proses koordinasi ke pihak terkait.
“Tak hanya data, semua barang-barang milik panitia hilang dijarah orang dan saat ini sambil menunggu koordinasi dari guru di masing-masing lembaga/sekolahan untuk mengembalikan uang pendaftaran yang telah dibayar para peserta,” tutur ketua panitia.
Dia juga berjanji di hadapan Wabup akan membayar semua pengajuan dari masing-masing guru dan dari lembaga yang melaporkan data peserta.
“Ini sudah konsekuensi, dan kami siap mengembalikan berapapun data yang diajukan guru. Saat ini ada sekitar 10 juta yang sudah kami kembalikan ke yang bersangkutan, dan kami mengembalikan uang dengan cara mencocokan data. Dari data yang dikirim oleh guru kemudian saya cocokan dengan data yang ada di kami,” ucapnya lantang.
Sementara itu, dia juga berjanji akan menyelesaikan permasalahan pembayaran dalam kurun waktu dua Minggu kedepan.
Selain itu, Kapolsek Bojonegoro, AKP Agus Elfauzi memaparkan, bahwa pada saat kejadian pihaknya melakukan pengamanan sesuai tugas. Di mana, panitia penyelenggara mengajukan izin kegiatan.
“Kalau izin awalnya jumlah peserta 1.000, di rapat koordinasi panitia mengatakan jumlah pesertanya 2.000. Sehingga jumlah personel yang kami tugaskan sebanyak 12 personel,” paparnya.
Bagi Kepolisian, seluruh kegiatan massa baik yang berizin maupun tidak berizin, ada kewajiban untuk dilakukan pengamanan. Hal itu, guna memelihara Kamtibmas. Pada saat kejadian ricuh, personel dari Polsek mengaku turut menenangkan massa yang kacau.
“Saat itulah, kami mengakomodir bahwa keinginan massa uangnya harus dikembalikan”.
Di hadapan forum pertemuan, Ita Puspitasari memberikan keterangan bahwa semua data yang dimiliki panitia hilang dijarah orang tak dikenal. “Semua data peserta hilang”. ujar Kapolsek kota.
Setelah bertemu dengan penyelenggara olimpiade matematika, Wakil Bupati Bojonegoro menegaskan pihak penyelenggara dinyatakan bersalah dan harus bertanggungjawab. Terlebih, untuk urusan biaya pendaftaran bagi peserta yang gagal atau batal mengikuti gelaran olimpiade matematika.
Di awali, Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah meminta pihak penyelenggara untuk menyampaikan ihwal penawaran ke lembaga yang akan mengikutkan siswa siswi dalam olimpiade matematika.
Secara tegas, Nurul Azizah mengatakan bahwa pihak penyelenggara melakukan kesalahan, dikarenakan tidak berizin.
Menanggapi hal tersebut Asisten I Setda Bojonegoro, Djoko Lukito mengatakan bahwa penyelenggara olimpiade hanya sebatas main-main.
“Kalau istilah orang Jawa, panitia ini selain tidak profesional, tidak kredibel, ibaratnya seperti obak dakon (baca: main mainan tradisional). Yang pasti sesegera mungkin harus dikembalikan uang para peserta yang sudah diterima panitia,” pesan Djoko Lukito.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro, Anwar Mukhtadho yang turut hadir, pada kesempatan tersebut mengungkapkan bahwa pihak penyelenggara olimpiade sangat tidak profesional dan terkesan asal-asalan terlebih lagi tidak melakukan izin sesuai prosedur yang berlaku sebagaimana mestinya.
“Ini sangat mencoreng dunia pendidikan di wilayah Bojonegoro. Pihak Saryta Management harus bertanggung jawab sepenuhnya,” pungkasnya
>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id


















