BERITABANGSA.ID, JOMBANG – Di Jombang, Jawa Timur, masih terdapat sebuah warung sederhana yang menyajikan minuman tradisional. Adalah es dawet ngledok namanya, yang tempatnya berada di pinggir Jalan Raya KH Abdul Wahab Hasbullah, perbatasan Kecamatan Jombang dan Tembelang.
Warung yang terbangun dari bambu ini diketahui merupakan salah satu tempat kuliner legendaris di Kabupaten Jombang. Es Dawet Ngledok ini didirikan oleh Mbah Djasminah, sejak 1950.
“Jadi saya ini sudah generasi ke empatnya. Namun resep dan bahannya masih sama seperti pertama kali Mbah Djasminah bikin. Karena rasa itulah yang benar-benar kita jaga,” ujar Emi Andriyani, perempuan 43 tahun yang jadi penerus ke empat usaha dawet legendaris itu.
Pantauan di lokasi pada Sabtu (22/11/2025) siang, warung yang berada di samping persawahan dan hiruk-pikuk lalu lintas ini terpantau cukup ramai. Pengunjungnya berbagai kalangan, mulai dari anak muda, pekerja hingga orang dewasa.
Tampak Emi bersama sang suami, Sumardjoko (51) tampak sibuk melayani sejumlah pembeli. Berada di kursi duduk kayu, aroma santan, gula Jawa dan tepung beras menguar samar. Semilir angin dari persawahan pun membuat suasana santai lebih nyaman dan tenang.
“Selain dawet, kue cucur yang terbuat dari adonan tepung beras dan gula, serta kue gandos yang terbuat dari tepung beras dan parutan kelapa. Selain itu juga ada berbagai macam gorengan, seperti tahu, ote-ote atau bakwan, dan tahu isi,” kata Emi sembari menyajikan semangkok Es Dawet Ngledok.
Tak jauh berbeda dengan es dawet pada umumnya. Es dawet ngledok ini berisi dawet hijau, agar-agar hunkwe, dan bubur sumsum. Kemudian dicampur dengan gula jawa, santan kelapa ditambah es batu sehingga terasa segar, manis, dan gurih.
“Yang membedakan, dawet dibuat dari tepung beras sehingga rasanya gurih dan bertekstur kenyal. Sedangkan, gula jawa dibuat tanpa pemanis buatan sehingga tidak serik di tenggorokan,” lanjut Emi.
Emi mengatakan, dalam sehari es dawetnya terjual hingga 150 porsi. Es dawet ngledok ini tergolong sangat murah. Seporsinya seharga Rp5.000 saja. Sedangkan, jajanannya seharga Rp1.000.
“Omzetnya paling banyak sekitar Rp800-900 ribu dalam setiap harinya. Alhamdulillah masih bertahan dan berjalan lancar sampai sekarang. Kalau pelanggan paling jauh, ada yang dari Surabaya biasanya,” tandasnya.
Masih di tempat yang sama, Ema Umala (21) merupakan salah satu pembeli es dawet legendaris ini. Mahasiswa semester akhir itu mengaku baru pertama kali mencicipi kesegaran kuliner tersebut, dari sebelumnya penasaran lantaran viral di berbagai platform media sosial.
“Saya taunya dari media sosial karena viral. Rasanya enak, gurih, legit, dan manis banget. Harganya ramah di kantong banget buat kalangan mahasiswa dan pelajar. Tempatnya juga enak sejuk dan rekomen banget dibuat tempat bersantai, soalnya tepi area persawahan,” ujarnya singkat, sembari mencicipi es dawet.
Perlu diketahui juga bahwa es dawet ngledok ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 – 16.00 WIB. Hanya saja, es dawet ngledok ini kerap ramai pada siang hari antara pukul 10.00 – 14.00 WIB.
>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id.


















