Kuliner

Rawon Misoa Kedai Mak Liem, Simfoni Rasa Jawa-Tionghoa di Tengah Kota Surabaya

64
×

Rawon Misoa Kedai Mak Liem, Simfoni Rasa Jawa-Tionghoa di Tengah Kota Surabaya

Sebarkan artikel ini
Kedai Mak Liem,
Tampak depan Kedai Mak Liem di Jalan Taman Gapura, Komplek Food Garden, Citraland, Surabaya. (Foto: Mwd, Beritabangsa.id).

BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Inovasi kuliner terus berkembang di Kota Pahlawan. Salah satu sajian yang berhasil mencuri perhatian pecinta makanan tradisional dan modern adalah Rawon Misoa, sebuah perpaduan unik yang dihadirkan oleh Kedai Mak Liem.

Kuliner ini tidak hanya menawarkan kelezatan cita rasa, tetapi juga merepresentasikan pertemuan harmonis antara dua kebudayaan besar, Jawa dan Tionghoa.

Rawon, makanan khas Jawa Timur yang identik dengan kuah hitam pekat dari kluwek dan daging sapi yang empuk, mengalami transformasi menarik ketika dipadukan dengan misoa, mi halus berbahan dasar tepung terigu yang berasal dari tradisi kuliner Tionghoa.

Di tangan kreatif Cisca Widodo, pemilik Kedai Mak Liem, dua unsur tersebut menyatu dalam satu mangkuk yang sarat makna dan kehangatan.

Cisca mengungkapkan bahwa ide perpaduan ini berangkat dari keinginannya untuk menghidupkan kembali misoa dalam tampilan yang lebih menggugah selera.

Selama ini misoa identik dengan tim ayam dan hidangan sederhana. Namun melalui eksplorasi dan eksperimen, ia menemukan bahwa karakter lembut misoa sangat cocok untuk menyerap rasa rempah khas rawon, menciptakan sensasi baru yang tidak ditemukan dalam rawon dengan nasi.

“Rawon identik dengan Jawa, sementara misoa adalah representasi kuat dari budaya Tionghoa. Ketika dua unsur ini berpadu, bukan hanya soal rasa yang kaya, tapi juga tentang menyatukan sejarah, tradisi, dan warisan budaya,” ujar Cisca yang juga tergabung dalam GS Investment Group.

Cisca Widodo, pemilik Kedai Mak Liem. (Foto: Mwd, Beritabangsa.id).

Kedai Mak Liem bukan sekadar tempat makan, tetapi sebuah ruang kultural yang menampilkan kolaborasi visual dan musikal antara budaya Jawa dan Tionghoa.

Di dalam kedai, nuansa pedesaan Jawa terasa dari alunan gending klasik yang menemani setiap sajian.

Sementara itu, lampion merah menggantung indah di sudut dan di tengah ruangan, menambah suasana yang hangat dan akrab bagi pengunjung.

Menu yang ditawarkan pun mencerminkan keberagaman nusantara, mulai dari tahu telur, sop merah, pecel, ayam goreng, hingga nasi campur.

Namun, Rawon Misoa tetap menjadi primadona yang tidak tergantikan. Cita rasanya tidak hanya menggugah selera, tetapi juga menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap warisan kuliner dua etnis yang telah lama hidup berdampingan di tanah Jawa.

Kedai Mak Liem buka setiap hari mulai pukul 06:00 pagi hingga pukul 19:00. Dengan harga yang terjangkau dan suasana yang otentik, tempat ini akan menjadi destinasi kuliner yang tidak hanya memuaskan perut, tetapi juga memperkaya pengalaman budaya bagi masyarakat Surabaya dan sekitarnya.

Hadirnya Rawon Misoa menjadi simbol bahwa kuliner tidak hanya sekadar konsumsi fisik, tetapi juga ruang perjumpaan antara identitas dan harmoni, memperlihatkan bahwa Indonesia bukan hanya kaya akan rasa, tetapi juga kaya akan cerita.

>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60