BERITABANGSA.ID, LUMAJANG —Bupati Lumajang, Indah Amperawati (Bunda Indah), mengikis budaya buruk salam tempel di Dinas Pendidikan. Dia dengan tegas menyatakan perang terhadap praktik lama yang mencederai nilai kejujuran dan integritas ASN.
Dia berharap ada perubahan besar di dunia pendidikan Kabupaten Lumajang. Tidak ada lagi salam tempel, tidak ada lagi amplop-amplopan setiap ada kunjungan atau urusan administrasi sekolah.
“Tidak ada lagi salam tempel, amplop-amplopan dari pihak sekolah kepada pengawas, Korwil, maupun dinas. Mereka semua sudah digaji oleh negara. Jadi tidak perlu ada pemberian apa pun,” tegas Bunda Indah, di saat kegiatan Setor Madu di Kecamatan Tekung, Kamis (30/10/2025).
Bunda Indah menilai, budaya memberi dan menerima amplop ini adalah kebiasaan buruk yang harus segera dihentikan.
Menurutnya, bukan hanya pihak yang memberi, tetapi yang menerima juga bersalah. Keduanya akan dikenai sanksi jika kedapatan melakukan praktik tersebut.
“Yang memberi dan yang diberikan akan saya beri sanksi. Ini budaya jelek yang tidak boleh diteruskan. Selama saya menjabat bersama Mas Yudha (Wakil Bupati Yudha Adji Kusuma), kita sepakat untuk memutus rantai kebiasaan ini,” ujarnya, tegas.
Bunda Indah ingin membangun budaya kerja yang lebih jujur dan ringan. Kata dia, bekerja sebagai pelayan masyarakat seharusnya dengan ketulusan bukan dengan pamrih.
“Selama ini, banyak kepala sekolah atau guru yang justru bingung setiap kali ada kunjungan dari dinas. Mereka urunan, takut kalau tidak memberi dianggap tidak sopan. Ini yang mau kita ubah. Sekarang tidak perlu lagi bingung, tidak perlu lagi takut,” tuturnya.
Bunda Indah dan Wabup Mas Yudha dalam memimpin Lumajang tidak ingin disuguhi secara berlebihan saat berkunjung ke daerah. Bukan karena sombong namun karena tidak ingin membebani masyarakat.
“Kami ini sama-sama keringnya,” ujar Bunda Indah disambut tawa hadirin. “Tapi justru kami bahagia, karena tidak membebani orang lain. Kami ingin masyarakat juga merasakan kelegaan yang sama.”
Baginya stop amplop, adalah kebijakan yang nyata untuk menghapus jejak feodalisme kecil di birokrasi. Baginya, era sekarang bukan lagi waktu untuk menumbuhkan rasa takut pada atasan atau kebiasaan asal bapak senang.
“Mari kita tinggalkan budaya feodal ini. Sekarang bukan zamannya. Kalau nanti bupati berikutnya mau melanjutkan budaya itu, ya silakan, kalau tega,” ucapnya.
Kebijakan ini bukan hanya soal disiplin atau larangan, namun tersimpan pesan moral yang dalam: bahwa integritas harus tumbuh dari kesadaran, bukan karena takut pada sanksi.
Kini, di berbagai sekolah di Lumajang, mulai terlihat perubahan. Para guru bekerja lebih tenang, kepala sekolah tidak lagi canggung ketika dikunjungi pejabat, dan hubungan antara dinas dan sekolah berjalan lebih setara.
Langkah Bupati Bunda Indah dan Wabup Mas Yudha bak angin segar. Kepemimpinan yang bersih, tulus dan tegas dibutuhkan masyarakat di tengah situasi saat ini.
“Kalau kita mau jujur dan sederhana, hidup jadi ringan. Tidak perlu amplop, yang penting niat kita tulus untuk melayani,” pungkasnya.
>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id


















