Terkini

Evakuasi Santri Al-Khoziny Hari Keenam: Kisah Haru Haikal dan Doa Syahid dari DPD Lia Istifhama

45
×

Evakuasi Santri Al-Khoziny Hari Keenam: Kisah Haru Haikal dan Doa Syahid dari DPD Lia Istifhama

Sebarkan artikel ini
Al-Khoziny
Nig Lia saat bezuk.

BERITABANGSA.ID, SIDOARJO – Memasuki hari keenam sejak musibah robohnya musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Buduran, Kabupaten Sidoarjo, pada Senin sore (29/9/2025), proses evakuasi masih berlangsung. Tim SAR gabungan bekerja tanpa henti mencari korban di tengah reruntuhan bangunan yang menyisakan duka mendalam di kalangan masyarakat dan dunia pesantren.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, melaporkan hingga Sabtu (4/10/2025), total korban tercatat sebanyak 167 orang. Dari jumlah itu, 118 orang telah ditemukan: 103 selamat, 14 meninggal dunia, dan satu pulang tanpa perawatan medis lanjutan.

“Sementara, sebanyak 49 orang lainnya masih dalam pencarian berdasarkan daftar absensi pondok pesantren,” jelas Abdul Muhari.

Sebanyak 14 korban selamat masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit, sementara puluhan lainnya telah diperbolehkan pulang setelah kondisi dinyatakan membaik.

Musibah ini menggugah empati publik. Sejumlah tokoh hadir memberi dukungan moral kepada para korban dan keluarga, antara lain Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Menko PMK Abdul Muhaimin Iskandar (Gus Muhaimin), Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Bupati Sidoarjo Subandi, serta anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama.

Namun di antara banyak kisah yang muncul, perjuangan dua santri, Syailendra Haikal (13) dan Yusuf (16), menjadi sorotan nasional. Keduanya bertahan hidup lebih dari dua hari di bawah reruntuhan. Percakapan lirih Haikal dengan tim penyelamat yang terekam video — “Semuanya sakit…” — menjadi viral dan menggugah simpati publik di seluruh Indonesia.

Kunjungan Senator Lia Istifhama ke RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo pada Kamis (2/10/2025) menjadi momen penuh keharuan. Ia datang didampingi Rofii Boenawi, relawan LazisNU Care Jawa Timur, serta kedua orang tua Haikal, Abdul Hawi dan Dwi Ajeng.

“Haikal usianya hampir sama dengan anak saya. Saat menengok, saya melihat sorot matanya menahan sakit, tapi ia tetap tegar. Masya Allah, anak ini luar biasa,” ujar Lia.

Bagi Lia, Haikal adalah cermin keteguhan iman dan kecerdasan spiritual di tengah ujian berat. Di bawah himpitan beton, Haikal tetap mengingat kewajiban salat dan bahkan mengajak temannya untuk berjamaah.

“Pada hari pertama, mereka masih sempat bersahutan. Namun di hari kedua, ketika ia kembali mengajak salat, sahutannya tak lagi berbalas. Saat itulah ia sadar sahabatnya telah tiada,” tutur Lia.

Sang ibu, Dwi Ajeng, menuturkan dengan suara bergetar, “Bayangkan, di bawah reruntuhan dan kegelapan, anak saya masih ingat salat. Itu yang membuat saya bersyukur sekaligus menangis.”

Kisah Haikal juga diwarnai pengalaman spiritual yang menyentuh. Di hari pertama tertimbun, Haikal merasa haus luar biasa. Tiba-tiba muncul sosok anak kecil yang membawakannya air minum dan bertanya, “Kakak haus?” Tak lama kemudian, sosok itu lenyap.

“Kita tidak tahu apakah itu halusinasi positif atau bentuk pertolongan Ilahi. Namun yang jelas, Haikal dipilih Allah SWT untuk selamat agar menjadi pelajaran bagi kita semua tentang kasih sayang, empati, dan tanggung jawab atas keselamatan anak-anak santri,” ungkap Lia.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60