BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Sosoknya supel dan lincah, merupakan Ketua Bidang Usaha di Komunitas Pasmanbaya. Ia juga dibalik suksesnya acara milad ke- 12 Pasmanbaya beberapa waktu lalu.
Dia adalah Lukitasari, akrab dipanggil Mbk Kiki, alumni SMAN 4 Surabaya dan sekarang sukses menjadi pengusaha di bidang Agrobisnis.
Tahun 2008 menjadi titik awal perjalanan bisnis Kiki. Kala itu, ia membuka perusahaan pertamanya yang langsung dipercaya menjadi rekanan TNI.
Kemudian, berangkat dari kepeduliannya pada program pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan, ia mendirikan PT. Eka Naga Indonesia pada 2016.
Perusahaan ini fokus membina petani, khususnya petani padi, dengan membentuk kelompok-kelompok tani yang terintegrasi dalam Gapoktan.
Langkah tersebut perlahan membuahkan hasil. Hingga kini, lebih dari 100 Gapoktan telah berada di bawah naungan Eka Naga Indonesia.
Kiki meyakini, keberhasilan usaha tidak hanya bergantung pada modal finansial. Ada dua hal yang lebih mendasar, disiplin dan menjaga kepercayaan.
“Dua modal ini sangat penting bagi seorang pengusaha. Tanpa kedisiplinan dan kepercayaan, sulit rasanya mencapai kesuksesan,” ungkapnya.
Namun, perjalanan itu tidak selalu mulus. Kiki kerap menghadapi perbedaan pola pikir petani di berbagai daerah, mulai Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, hingga luar pulau Jawa.
Perbedaan adat istiadat dan kondisi tanah menuntut strategi pendekatan yang persuasif. Untuk itu, ia membentuk tim penyuluhan di setiap daerah agar kesalahpahaman bisa diminimalisir, sekaligus memberi pendampingan terkait sarana dan prasarana pertanian.
Tak hanya fokus pada produksi, Kiki juga berupaya melindungi hasil panen petani agar tidak jatuh ke tangan tengkulak. “Kasihan petani jika tengkulak bisa memainkan harga sesuka hati,” tegasnya.
Peran Kiki semakin terlihat ketika ia dipercaya sebagai Ketua Bidang Usaha di komunitas Pasmanbaya.
Ia menggagas program ketahanan pangan dengan menggarap lahan jagung seluas 20 hektar dari rencana jangka panjang, total 100 hektar. Jagung dipilih karena perawatan yang mudah dan bisa dipanen tiga bulan sekali secara berkelanjutan.
Program ini tidak hanya diarahkan untuk mendukung agenda pemerintah, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi anggota Pasmanbaya.
Sebagian hasil panen akan dikelola menjadi dana kas abadi yang menopang kegiatan sosial dan keagamaan komunitas, tanpa lagi membebani anggota.
“Dengan adanya dana abadi ini, kegiatan seperti milad maupun acara sosial lainnya bisa berjalan lebih ringan,” jelas Kiki.
Persiapan matang juga terus dilakukan, mulai dari pendataan anggota, pelatihan, hingga workshop.
Menurutnya, pelatihan harus diiringi tindak lanjut nyata, agar kendala di lapangan segera teratasi. Ia juga menekankan pentingnya regenerasi di Pasmanbaya agar komunitas tetap eksis dan berkontribusi di tengah masyarakat.
Latar belakang Kiki di dunia pertanian sudah terbentuk sejak kecil. Ia dibesarkan dalam keluarga yang memiliki sawah di Ambarawa, sehingga dunia pertanian bukan hal asing baginya.
Baginya, ketahanan pangan adalah isu strategis yang menyangkut harkat hidup bangsa.
“Indonesia ini negara agraris. Sudah sewajarnya pertanian menjadi sektor unggulan. Jika dikelola serius, kita tidak perlu impor. Petani bisa mandiri dan terbebas dari jeratan tengkulak,” ujarnya penuh keyakinan.
Kebanggaan terbesar bagi Kiki bukanlah deretan pencapaian pribadi, melainkan momen ketika ia melihat petani mampu panen raya dengan wajah sumringah.
Kebahagiaan itu semakin lengkap saat melihat para petani dapat mengakses bibit dan pupuk dengan mudah.
Dengan kombinasi pengalaman, visi, dan komitmen, Kiki berharap kiprahnya bersama PT. Eka Naga Indonesia dan Pasmanbaya dapat menjadi kontribusi nyata bagi ketahanan pangan nasional sekaligus kesejahteraan petani.
>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id


















