BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Quddus Salam, sedang berbahagia. Dia diambil sumpah dokter dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Kamis (28/8/2025).
Pria kelahiran Bangkalan, 26 April 2001 itu, menyudahi perjalanan panjang yang penuh tantangan sampai menjadi dokter di keluarganya.
Sejak masa sekolah menengah, Quddus tidak pernah membayangkan akan mengenakan jas putih dokter.
Minatnya justru tertuju pada dunia bahasa, bahkan sempat bercita-cita menjadi guru bahasa Arab. Namun, kedua orang tuanya melihat potensi lain.
“Orang tua melihat saya unggul di pelajaran kimia. Dari situ mereka mendorong agar saya menjadi dokter. Awalnya saya hanya mencoba mengikuti, tapi Alhamdulillah sekarang justru menjadi dokter pertama di keluarga,” ujarnya, bangga.
Perjalanan akademiknya tidak selalu mulus. Quddus pernah merasa ragu dan hampir menyerah di tengah jalan.
Titik balik hadir saat ia memasuki semester V, ketika berjumpa dengan mata kuliah terkait kejiwaan.
“Sejak SMP saya suka membaca tentang psikologi dan karakter manusia. Ketika bertemu dengan mata kuliah kejiwaan, rasanya seperti menemukan kembali apa yang saya cintai sejak dulu. Dari situ saya semakin mantap dan benar-benar mencintai dunia kedokteran,” ungkapnya.
Latar belakang keluarganya yang agamis turut membentuk arah pengabdian Quddus.
Ayahnya, seorang kiai dan pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Al-Muhajirin, Arosbaya, Bangkalan.
Dari situ inspirasi lahirnya gagasan untuk menjadikan pesantren sebagai pusat penguatan kesehatan, bukan hanya pusat pendidikan agama.
Inisiatif itu bermula pada masa pandemi Covid-19. Bersama teman-teman kuliah, Quddus melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat di pesantren.
Dari pengalaman itu lahirlah Poskestren (Posko Kesehatan Pesantren), sebuah program kerja sama antara pondok pesantrennya dengan Unusa.
“Awalnya hanya penelitian, lalu kami coba membuat wadah. Alhamdulillah, akhirnya Poskestren terbentuk di pondok kami,” jelas putra pasangan Lainul Qolbi Hamzah dan Elok Fauziyah ini.
Poskestren merupakan program Fakultas Kedokteran Unusa dalam kerangka Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM).
Kehadirannya menjadi jembatan penting yang menghubungkan literasi kesehatan dengan pendidikan agama.
Quddus dan rekan-rekannya rutin memberikan edukasi, mulai dari gizi seimbang, pemanfaatan obat tradisional, pencegahan penyakit menular, hingga pola hidup bersih.
Program ini tidak hanya menyasar para santri, tetapi juga masyarakat sekitar pesantren dengan dukungan puskesmas setempat, Babinsa, hingga mahasiswa Unusa.
Sejak 2022, Poskestren di pondoknya berkembang semakin mandiri. Para santri kini membentuk tim khusus yang mengelola kegiatan kesehatan secara rutin, bahkan dilengkapi pencatatan rekam medis sederhana untuk meningkatkan kerapian data kesehatan.
“Bersyukur sudah ada tim dari santri sendiri yang melanjutkan program. Budaya hidup sehat di pesantren pun mulai terbentuk dengan baik,” kata Quddus.
Perubahan itu mendapat apresiasi luas, terutama dari para orang tua santri. “Alhamdulillah kesadaran santri terhadap kesehatan meningkat pesat. Orang tua saya sejak awal mendukung penuh adanya Poskestren. Pesan abah saya jelas, kita harus menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Itu yang selalu saya pegang,” ucapnya dengan haru.
Kini, setelah resmi menyandang gelar dokter, Quddus Salam bertekad untuk terus mengembangkan Poskestren sekaligus memperluas pengabdiannya bagi masyarakat.
Baginya, profesi dokter bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga ladang ibadah untuk membawa keberkahan.
>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id


















