Pertama, memanfaatkan kembali air limbah (waste water) dengan teknologi tertentu agar layak pakai. Kedua, mengolah air laut dengan metode filtrasi alami melalui tanah sebelum kembali diproses menjadi air layak konsumsi.
“Prinsipnya adalah bagaimana air, baik dari limbah maupun laut, bisa dimanfaatkan kembali. Namun implementasinya tentu memerlukan sumber daya besar dari sisi teknologi, biaya, dan tenaga ahli. Karena itu, dibutuhkan kolaborasi lintas sektor,” jelas Syafiuddin.
Antusiasme peserta juga terlihat dari jumlah karya ilmiah yang masuk.
Ketua Pelaksana iConASET 2025, Doktor Fifi Khoirul Fitriyah, menyebutkan hampir 100 makalah dipresentasikan dalam konferensi ini. Peserta berasal dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Filipina, Taiwan, Polandia, hingga Amerika Serikat.
“Semua makalah telah melalui proses review dan kini tengah diproses di jurnal mitra internasional. Kami berharap publikasi ini berjalan lancar hingga tahap akhir,” kata Fifi.
Beberapa jurnal bereputasi yang menjadi mitra publikasi antara lain Letters in Applied Nano Bio Science (Q3), Biointerface Research in Applied Chemistry (Q3), Social Science and Humanities Open (Q1 SSCI), Lex-Localis: Journal of Local Self Government (Q2), Journal of Carcinogenesis (Q2), serta special issue dari penerbit Wiley.
“Pesertanya luar biasa banyak, hampir 400 peserta di Zoom dan yang ada di room sekitar 50 lebih, itu merupakan presenter dan juga partisipan yang dari kampus Unusa sendiri,” tuturnya pada Beritabangsa.id.
Selain itu, beberapa jurnal yang diterbitkan Unusa dan asosiasi ARJUNU juga turut berpartisipasi.
Dengan menghadirkan pakar lintas negara dan lintas disiplin, iConASET 2025 diharapkan memperkuat kontribusi Unusa dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Lebih jauh, ia mengungkapkan, forum ini juga menjadi wadah strategis dalam menghasilkan gagasan yang relevan untuk menjawab tantangan global, terutama di bidang pendidikan, kesehatan, dan teknologi.
>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id


















