Namun, ketika ditanya mengenai keterlibatannya dalam buku tersebut, TGB memberikan bantahan melalui media sosial.
“Saya tidak pernah kirim tulisan,” demikian jawaban TGB ketika mendapat pertanyaan dari warganet mengenai kontribusinya dalam buku tersebut.
Pernyataan itu kemudian memunculkan pertanyaan publik mengenai proses pencantuman nama TGB sebagai penulis apabila yang bersangkutan menyatakan tidak pernah mengirimkan naskah.
Persoalan serupa juga muncul terkait nama KH Muhammad Abdurrahman Kautsar atau Gus Kautsar. Dalam buku tersebut, namanya tercantum pada halaman 318 sebagai penulis tulisan berjudul “Dukungan Pesantren untuk Presiden Prabowo Subianto.”
Keberatan atas pencantuman nama tersebut disampaikan oleh istri Gus Kautsar, Ning Jazilah Annahdliyah, melalui media sosial. Ia mempertanyakan penggunaan nama suaminya dan menegaskan bahwa Gus Kautsar tidak pernah menulis materi sebagaimana tercantum dalam buku tersebut serta tidak memberikan izin atas penggunaan namanya.
Suryajiyoso menilai, klarifikasi dari seluruh pihak yang terlibat menjadi langkah penting agar persoalan tersebut tidak berkembang menjadi polemik berkepanjangan.
Menurutnya, transparansi perlu dikedepankan untuk mengetahui secara utuh duduk perkara, termasuk proses pengumpulan naskah hingga akhirnya sebuah tulisan dapat dimuat dan nama seseorang dicantumkan sebagai penulis.
“Semua pihak tentu harus diberikan ruang untuk memberikan penjelasan. Prinsipnya, persoalan seperti ini harus diselesaikan berdasarkan fakta dan dokumen yang ada. Jangan sampai muncul kesimpulan sebelum seluruh pihak memberikan klarifikasi,” katanya.
Polemik buku Islam ala Prabowo kini tidak lagi semata berkaitan dengan isi dan gagasan yang diangkat. Perhatian publik berkembang pada proses editorial, atribusi kepenulisan, komunikasi dengan pihak yang namanya dicantumkan, hingga mekanisme persetujuan dalam penerbitan sebuah karya.
Publik pun menunggu penjelasan dari pihak penerbit maupun pihak-pihak yang terlibat dalam penyusunan buku tersebut guna memberikan kejelasan atas bantahan yang disampaikan TGB dan keluarga Gus Kautsar.


















