Pendidikan

Serangan Zero-Click Bisa Sadap Tanpa Disadari, Ini Penjelasan Pakar ITS

3
×

Serangan Zero-Click Bisa Sadap Tanpa Disadari, Ini Penjelasan Pakar ITS

Sebarkan artikel ini
Unair

BERITABANGSA.ID, SURBAYA – Ancaman penyadapan digital kian berkembang seiring meningkatnya penggunaan gawai untuk berkomunikasi dan bertukar informasi.

Salah satu metode yang perlu diwaspadai adalah zero-click, yakni serangan siber yang memungkinkan pelaku mengakses informasi tanpa perlu korban mengeklik tautan, membuka berkas, atau melakukan aktivitas tertentu pada perangkatnya.

Pakar dari Program Studi Teknik Telekomunikasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Doktor Wirawan, menjelaskan bahwa penyadapan komunikasi tidak selalu dilakukan dengan mengambil alih perangkat korban secara langsung.

Praktik tersebut juga dapat berlangsung melalui infrastruktur jaringan telekomunikasi dengan cara menyalin informasi yang dikirimkan.

Dalam mekanisme itu, penyadap dapat memperoleh salinan data tanpa mengganggu informasi asli yang diterima oleh penerima.

Dengan demikian, komunikasi tetap berlangsung sebagaimana mestinya, sementara pihak lain berpotensi mengakses informasi yang dipertukarkan. “Informasi itu bisa disalin, sementara informasi aslinya tetap ada,” jelas Wirawan.

Menurut dia, perkembangan teknologi membuat metode penyadapan semakin sulit dideteksi. Salah satu teknik yang menjadi perhatian adalah zero-click, yaitu serangan yang tidak membutuhkan tindakan atau interaksi dari pengguna.

Kondisi ini membuat masyarakat semakin sulit mengenali kapan perangkat maupun komunikasinya menjadi sasaran serangan digital.

“Sekarang teknologinya sudah zero-click, penggunanya tidak melakukan apa-apa, tapi itu sudah bisa dilakukan,” ungkapnya.

Wirawan menjelaskan, masyarakat tidak dapat memastikan adanya penyadapan hanya dengan mengamati perubahan kondisi gawai.

Sebab, penyadapan yang berlangsung melalui pusat jaringan telekomunikasi belum tentu meninggalkan tanda pada perangkat korban.

“Setahu saya sulit untuk mengenali perubahan yang terjadi pada gawai,” tuturnya saat menjelaskan keterbatasan pengguna dalam mengidentifikasi perangkat yang sedang disadap.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menyamakan penyadapan dengan bentuk kejahatan digital lainnya. Pengambilalihan akun WhatsApp dan penyamaran identitas merupakan bentuk penyalahgunaan teknologi yang dapat dimanfaatkan pelaku untuk melakukan penipuan, termasuk meminta sejumlah uang kepada korban.

Menurut Wirawan, penyadapan pada dasarnya bertujuan memperoleh informasi dari pihak yang menjadi sasaran. Karena itu, penanganan dugaan penyadapan harus mempertimbangkan metode serangan serta bagian perangkat yang telah terkompromi.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan meliputi pembersihan perangkat, pemasangan ulang sistem operasi, hingga penggantian kartu SIM apabila sumber serangan berasal dari bagian tersebut. Upaya pencegahan juga perlu dilakukan melalui pembaruan sistem perangkat secara berkala.

“Salah satu upaya preventif-nya bisa dengan mengaktifkan update otomatis pada sistem perangkat seluler,” tegasnya.

Selain ancaman penyadapan, penggunaan jaringan internet publik juga memerlukan kewaspadaan. Salah satu risiko yang kerap dihadapi pengguna adalah keberadaan jaringan Wi-Fi palsu yang sengaja dibuat menyerupai jaringan resmi.

Pengguna yang tidak cermat dapat terhubung ke titik akses tersebut tanpa mengetahui bahwa jaringan yang digunakan tidak aman.

Wirawan menyarankan masyarakat memastikan keaslian jaringan sebelum menggunakannya, terutama ketika berada di ruang publik.

“Pastikan dulu kepada pengelola tempat apakah jaringan Wi-Fi tersebut benar-benar milik mereka,” pesannya.

Kewaspadaan serupa perlu diterapkan saat menggunakan berbagai layanan digital, termasuk aplikasi dan layanan berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Pengguna perlu memahami bagaimana layanan tersebut memanfaatkan data yang diberikan serta menghindari kebiasaan membagikan informasi pribadi secara sembarangan.

Salah satu data yang perlu dijaga kerahasiaannya adalah Kartu Tanda Penduduk (KTP). Informasi identitas pribadi semestinya tidak diberikan kepada layanan digital tanpa memahami tujuan dan pemanfaatan datanya.

Peningkatan literasi keamanan digital menjadi bagian penting dalam mendorong pemanfaatan teknologi yang bertanggung jawab.

Upaya tersebut sekaligus sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-9, yakni Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 468x60