BERITABANGSA.ID, KEDIRI – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan diam saat ditanya kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) ldi Kabupaten Karo, Sumatera Utara, hingga mengalami gangguan ingatan 70 persen.
Zulkifli Hasan saat itu menghadiri penyaluran bantuan pangan beras di Balai Desa Gogorante, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Kamis (10/9/2026).
Wartawan menanyakan tanggapan Zulhas mengenai kondisi Febiola Br Purba, siswi berusia 16 tahun yang disebut mengalami kondisi kesehatan serius setelah diduga mengonsumsi MBG.
Namun, Zulhas tidak memberikan tanggapan mengenai kasus tersebut.
Ia justru melanjutkan agenda dengan menyampaikan sejumlah kebijakan pemerintah terkait pangan, mulai dari tambahan bantuan beras hingga kebijakan stabilisasi harga.
Sikap itu terjadi ketika isu keamanan MBG tengah mendapat sorotan menyusul munculnya kasus dengan kondisi korban yang dilaporkan cukup serius.
Febiola Br Purba dilaporkan sebagai satu korban dugaan keracunan MBG di Kabupaten Karo.
Dalam laporan ingatan Febiola menurun setelah mengalami gangguan kesehatan, yakni gangguan fungsi ingatan 70 persen.
Namun, penyebab medis pasti Febiola dan hubungan dengan MBG tetap memerlukan pembuktian dan investigasi resmi.
Karena itu, kasus tersebut tidak semestinya berhenti pada persoalan apakah makanan menyebabkan keracunan, tetapi juga menyangkut bagaimana negara memastikan keselamatan penerima program ketika muncul dugaan kejadian luar biasa.
Dalam kesempatan di Kediri, Zulhas justru memaparkan panjang lebar mengenai kebijakan pemerintah menghadapi potensi tekanan pangan akibat kemarau dan El Nino.
Pemerintah, kata dia, menambah 1 juta ton bantuan pangan beras untuk 33,2 juta penerima manfaat selama Oktober hingga Desember 2026.
Pemerintah juga menyiapkan tambahan 1 juta ton beras SPHP untuk menjaga harga beras di pasar.
Selain itu, pemerintah menyiapkan 150.000 ton jagung untuk membantu peternak serta sekitar 380.000 ton beras yang mengalami penurunan mutu untuk kebutuhan industri tepung.
Namun, ketika pertanyaan bergeser dari persoalan pangan secara umum ke keamanan program MBG dan kondisi korban dugaan keracunan, tidak ada penjelasan yang diberikan Zulhas dalam kesempatan tersebut.
Kasus dugaan keracunan MBG kembali menempatkan pemerintah pada pertanyaan mengenai pengawasan kualitas makanan yang diberikan kepada anak-anak.
Program MBG memiliki tujuan meningkatkan asupan gizi penerima manfaat. Karena itu, aspek keamanan makanan menjadi bagian yang tidak kalah penting dibandingkan jumlah penerima maupun besarnya anggaran program.
Ketika muncul laporan korban mengalami dampak kesehatan serius, publik tentu membutuhkan penjelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana hasil pemeriksaan, serta langkah apa yang dilakukan pemerintah untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Terlebih, pemerintah selama ini terus memperluas pelaksanaan program tersebut.
Hingga berita ini ditulis, Zulhas belum memberikan tanggapan mengenai kasus dugaan keracunan MBG di Karo yang ditanyakan wartawan, termasuk mengenai kondisi korban yang dilaporkan mengalami gangguan ingatan hingga 70 persen.


















