BERITABANGSA.ID, BOJONEGORO – Banyaknya kejadian keracunan makanan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di beberapa wilayah di Indonesia, membuat para wali murid di Kabupaten Bojonegoro trauma dan melarang anaknya menyantap MBG.
Di sisi lain, Badan Gizi Nasional (BGN) mengeluarkan kebijakan resmi, bahwa murid dilaran membawa pulang MBG ke rumah, sesuai edaran BGN.
Dijelaskan, bahwa MBG harus dikonsumsi di sekolah. Apabila makanan tidak habis, sisa makanan akan dikembalikan ke pihak dapur saat pengambilan ompreng. Dengan demikian, tidak ada aktivitas membungkus makanan untuk dibawa pulang.
Selain itu, waktu konsumsi MBG juga diatur sebelum pukul 10.00 WIB.
Pelaksanaannya dijadwalkan pukul 09.30 WIB atau 30 menit sebelum waktu pulang sekolah. Kebijakan itu dimaksudkan agar pelaksanaan makan MBG tidak mengganggu kegiatan belajar siswa.
Pihak sekolah juga meminta konfirmasi dari orangtua mengenai kesediaan mereka mengizinkan anak mengikuti pelaksanaan MBG dengan mekanisme tersebut.
Korwil SPPG Kabupaten Bojonegoro, Tommy Mandala Putra, membenarkan adanya ketentuan tersebut. Menurutnya, larangan membawa pulang makanan MBG merupakan arahan dari BGN pusat.
“Sesuai arahan BGN pusat demikian, Mas,” kata Tommy, Sabtu (12/9/2026).
Penerapan aturan itu berlangsung ketika sebagian wali murid masih menyimpan kekhawatiran terhadap keamanan makanan MBG. Kekhawatiran itu muncul setelah sejumlah kasus gangguan kesehatan usai mengonsumsi makanan MBG diberitakan terjadi di berbagai daerah.
Salah satunya disampaikan Himma, wali murid salah satu sekolah dasar negeri di Kecamatan Kota Bojonegoro. Ia mengaku khawatir setelah mengikuti pemberitaan mengenai puluhan pelajar di Sidoarjo dan sejumlah daerah lain yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG.
Karena kekhawatiran tersebut, Himma memilih meminta anaknya membawa pulang makanan MBG yang diterima dari sekolah. Makanan tersebut kemudian diperiksa terlebih dahulu sebelum dikonsumsi.
“Setiap hari menu MBG yang diberikan di sekolah selalu dibawa pulang. Sebelum dimakan anak saya, pasti saya cek dulu untuk menjaga agar anak saya tidak keracunan,” ungkap Himma, Jumat (11/9).
Menurutnya, kekhawatiran semakin kuat setelah mengetahui pemberitaan mengenai penanganan terhadap dapur penyedia MBG yang dikaitkan dengan kasus keracunan di Sidoarjo.
“Kalau hanya ditutup seperti itu, lantas bagaimana ke depannya? Itu kan meracuni banyak anak. Di kondangan saja kalau makanan yang disediakan membuat tamu undangan keracunan, pasti pemilik rumah diperiksa polisi. Tapi MBG kok berbeda. Jadi wajar kalau saya melarang anak saya memakan MBG,” tegasnya.
Kekhawatiran wali murid di Bojonegoro sendiri tidak terlepas dari sejumlah laporan keluhan kesehatan setelah mengkonsumsi MBG yang pernah terjadi di Bojonegoro.
Berdasarkan catatan kejadian sejak September 2025 hingga April 2026, terdapat sejumlah laporan keluhan kesehatan di sekolah dan wilayah penerima program MBG di Kabupaten Bojonegoro.
Pada 24 September 2025, sebanyak tujuh siswa SDN Semanding dilaporkan mengalami mual, pusing dan sakit perut setelah mengonsumsi makanan MBG. Sehari kemudian, 25 September 2025, sebanyak 150 siswa SMPN 2 Balen dilaporkan mengalami sakit perut dan tidak masuk sekolah setelah mengonsumsi makanan MBG.
Keluhan dengan jumlah siswa terdampak lebih besar kemudian dilaporkan di Kecamatan Kedungadem. Pada 1 Oktober 2025, sebanyak 544 siswa SMAN 1 Kedungadem dilaporkan mengalami keluhan setelah menyantap menu MBG. Keluhan yang muncul antara lain mual, pusing, sakit perut hingga diare.
Laporan serupa kemudian muncul dari sekolah lain yang menerima makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Kedungadem.
Pada 2 Oktober 2025, sejumlah siswa SDN Tumbrasanom dilaporkan mengalami keluhan kesehatan. Laporan awal menyebut tujuh siswa terdampak, sementara data lainnya mencatat empat siswa mendapat penanganan. Pada hari yang sama, sekitar lima hingga enam siswa MTs Plus Nabawi juga dilaporkan mengalami keluhan serupa.
Rangkaian kejadian di Kedungadem menjadi perhatian setelah hasil pemeriksaan laboratorium menemukan bakteri Escherichia coli (E. coli) pada sampel makanan dari dua SPPG yang memasok makanan ke sekolah-sekolah tersebut.
Keluhan setelah konsumsi MBG kembali dilaporkan pada 28 November 2025. Sekitar 30 siswa di lingkungan MAN 1 dan MAN 2/Pondok Pesantren Al-Falah, Desa Pacul, Bojonegoro, dilaporkan mengalami sakit perut dan diare. Sebanyak 18 siswa di antaranya sempat mendapat penanganan di IGD.
Memasuki 2026, laporan kembali muncul di Desa Tikusan, Kecamatan Kapas, pada 15–16 April 2026. Sebanyak 17 penerima manfaat dilaporkan mengalami keluhan setelah menyantap menu MBG yang berasal dari SPPG Plesungan 2. Mereka terdiri atas sembilan siswa sekolah dasar, empat anak TK/Posyandu dan empat ibu hamil.
Penulis: Suyat


















