BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Riuh tabuhan genderang dan atraksi barongsai menutup rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SD Khadijah Pandegiling, Surabaya, Jumat (17/7/2026).
Pertunjukan itu bukan sekadar hiburan bagi ratusan siswa baru, melainkan bagian dari strategi sekolah memperkenalkan keberagaman budaya sejak usia dini sebagai bekal hidup di tengah masyarakat yang semakin majemuk.
Jika pada tahun lalu sekolah menghadirkan Reog Ponorogo sebagai representasi budaya Nusantara, tahun ini giliran barongsai ditampilkan.
Pergantian tema tersebut mencerminkan komitmen sekolah mengenalkan peserta didik pada kekayaan budaya, baik lokal maupun budaya yang telah berakulturasi dan hidup berdampingan di Indonesia.
Di lingkungan pendidikan dasar, pendekatan ini dikenal sebagai kulturisasi budaya.
Melalui proses tersebut, sekolah tidak hanya mentransfer pengetahuan akademik, tetapi juga membentuk karakter peserta didik agar menghargai perbedaan, memahami identitas bangsanya, sekaligus memiliki keterbukaan terhadap budaya lain tanpa kehilangan jati diri sebagai warga Indonesia.
Di SD Khadijah Pandegiling, kulturisasi budaya diterapkan secara bertahap.
Budaya Indonesia tetap menjadi fondasi utama dalam kegiatan pembelajaran, mulai dari pengenalan kesenian daerah, nilai-nilai kebangsaan, hingga tradisi lokal.

Setelah itu, siswa diperkenalkan pada budaya mancanegara yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, seperti kesenian barongsai.
Kepala SD Khadijah Pandegiling, Syif’aul Khoir, S.Ag., mengatakan pemilihan barongsai dilandasi keinginan sekolah membangun rasa ingin tahu siswa terhadap bangsa-bangsa yang memiliki kemajuan di berbagai bidang.
“Kita tidak bisa menutup mata bahwa saat ini Cina dari sisi ekonomi, teknologi, maupun kebudayaan mengalami perkembangan yang sangat pesat,” katanya.
Menurut Syif’aul, pengenalan budaya Tiongkok menjadi pintu masuk bagi siswa untuk memahami bahwa kemajuan suatu bangsa lahir dari tradisi belajar, disiplin, inovasi, dan kerja keras.
Ia mengaitkan semangat tersebut dengan ungkapan yang populer di masyarakat, “Carilah ilmu sampai ke negeri Cina”.
Bagi dirinya, makna yang perlu ditanamkan kepada anak-anak bukanlah sekadar mengenal negaranya, melainkan menumbuhkan semangat mencari ilmu dari mana pun sumber kebaikan itu berasal.
“Yang ingin kami ambil bukan persoalan filosofis dari pertunjukan barongsainya, tetapi semangatnya. Mengapa Cina bisa maju dalam pendidikan, teknologi, ekonomi, hingga produknya mampu menguasai pasar dunia. Anak-anak harus tumbuh dengan rasa ingin tahu dan semangat belajar,” ujarnya.

Meski membuka ruang bagi pengenalan budaya global, Syif’aul menegaskan sekolah tidak menggeser posisi budaya nasional sebagai prioritas utama dalam pendidikan karakter.
Menurut dia, kecintaan terhadap seni dan budaya Indonesia terus ditanamkan melalui berbagai kegiatan pembelajaran.
Setelah peserta didik memiliki akar budaya yang kuat, mereka dikenalkan pada budaya bangsa lain agar memiliki wawasan internasional tanpa kehilangan identitas kebangsaannya.
“Kita wajib mencintai budaya Indonesia. Itu yang pertama kami tanamkan. Tetapi anak-anak juga harus memahami bahwa dunia semakin terbuka sehingga mereka perlu mengenal budaya dari berbagai negara,” tuturnya.
Kepercayaan masyarakat terhadap SD Khadijah Pandegiling juga terus meningkat. Syif’aul mengungkapkan kuota penerimaan peserta didik baru tahun ajaran 2026/2027 telah terpenuhi bahkan sekolah terpaksa menolak sebagian pendaftar karena keterbatasan ruang belajar.
Bahkan, kata dia, pendaftaran untuk tahun ajaran 2027/2028 sudah penuh sejak Desember tahun lalu dan hingga kini masih banyak orang tua yang mengajukan permohonan agar anaknya dapat diterima di sekolah tersebut.
“Kami bersyukur masyarakat masih memberikan kepercayaan kepada SD Khadijah Pandegiling untuk mendidik putra-putri mereka. Amanah ini tentu menjadi tanggung jawab besar bagi kami,” katanya.
Tingginya animo masyarakat itu mendorong sekolah menyiapkan pengembangan sarana pendidikan.
Pihak sekolah telah menyusun rencana anggaran biaya (RAB) beserta desain pembangunan gedung baru yang diharapkan dapat menambah ruang kelas dan memperluas daya tampung peserta didik pada tahun-tahun mendatang.


















