Terkini

PSMTI Surabaya 2026–2030 Dilantik, Fokus Regenerasi dan Penguatan Organisasi

58
×

PSMTI Surabaya 2026–2030 Dilantik, Fokus Regenerasi dan Penguatan Organisasi

Sebarkan artikel ini
PSMTI
Momen foto bersama usai pelantikan.

BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kota Surabaya resmi melantik jajaran pengurus periode 2026–2030 di Universitas Hayam Wuruk Perbanas, Nginden, Sabtu (23/5/2026).

Prosesi pelantikan yang dirangkai dengan pembekalan organisasi berlangsung khidmat dengan dihadiri pengurus PSMTI Jawa Timur serta ratusan anggota dari berbagai kalangan.

Pelantikan tersebut menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus penguatan regenerasi di tubuh PSMTI Surabaya.

Kehadiran generasi muda dalam kepengurusan baru disebut menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan organisasi sosial kemasyarakatan etnis Tionghoa tersebut.

Sekretaris PSMTI Jawa Timur, Angie Laurensia Sayogo, menegaskan bahwa pelantikan pengurus bukan sekadar agenda seremonial, melainkan awal dari tanggung jawab baru yang menuntut dedikasi dan integritas.

Menurutnya, menjadi pengurus organisasi harus dilandasi ketulusan dalam memberikan waktu, tenaga, dan pemikiran bagi kepentingan bersama.

Ia juga menyebut PSMTI Surabaya selama ini menjadi salah satu barometer organisasi di Jawa Timur.

“Semangat regenerasi harus terus dijaga. Kami melihat hari ini banyak anak muda yang hadir dan terlibat aktif. PSMTI memberi ruang bagi generasi muda untuk bertumbuh dan berkembang dalam organisasi,” ujarnya.

Prosesi pelantikan diawali dengan penandatanganan surat pernyataan kesediaan oleh Ketua PSMTI Surabaya periode 2026–2030, Muljo Hardijana, kepada pengurus PSMTI Jawa Timur.

Agenda dilanjutkan dengan pembacaan Surat Keputusan Ketua PSMTI Jawa Timur tentang susunan kepengurusan PSMTI Kota Surabaya periode 2026–2030.

Seluruh pengurus kemudian mengikuti pembacaan ikrar organisasi yang ditutup dengan penyerahan bendera PSMTI sebagai simbol estafet kepemimpinan.

Dalam sambutannya, Muljo Hardijana menilai pembekalan organisasi penting diberikan agar seluruh pengurus memahami peran strategis organisasi di tengah masyarakat.

Ia menyebut organisasi bukan hanya menjadi ruang berhimpun, tetapi juga sarana komunikasi, interaksi sosial, hingga wadah penyaluran aspirasi masyarakat.

“Organisasi menjadi bekal kita bermasyarakat. Melalui pembekalan ini kami berharap seluruh anggota memahami pentingnya organisasi sebagai wadah komunikasi, interaksi, penyerap, dan penyalur aspirasi,” katanya.

Materi pembekalan pertama disampaikan Kunkun Tanimijaya yang juga menjabat Ketua PSMTI Kota Madiun.

Dalam pemaparannya, ia mengulas sejarah berdirinya PSMTI beserta pemahaman dasar mengenai anggaran dasar organisasi.

Kunkun menjelaskan, PSMTI merupakan organisasi kemasyarakatan etnis Tionghoa tingkat nasional yang berdiri pada 28 September 1998 pasca tragedi Mei 1998.

Organisasi tersebut dibentuk sebagai ruang penguatan solidaritas sosial dan kebangsaan masyarakat Tionghoa di Indonesia.

Ia menilai pola kaderisasi yang dijalankan PSMTI Surabaya berkembang cukup pesat dan berpotensi menjadi model percontohan bagi daerah lain di Jawa Timur.

“Kaderisasi di Kota Surabaya cukup masif dan bisa menjadi proyek percontohan bagi kota lainnya,” jelasnya.

Pembekalan berikutnya menghadirkan narasumber Inayah Sri Wardhani dengan materi bertajuk Tionghoa di Tengah Pluralisme serta Mengapa Tionghoa Harus Berorganisasi.

Ia menegaskan bahwa etnis Tionghoa merupakan bagian integral dari masyarakat Indonesia yang majemuk.

Karena itu, pembangunan pluralisme inklusif dinilai perlu diperkuat melalui kebijakan yang setara, pendidikan multikultural, hingga dialog sosial yang terbuka.

Menurutnya, organisasi memiliki posisi penting dalam menghimpun aspirasi masyarakat agar dapat tersampaikan secara lebih sistematis kepada pemerintah maupun publik luas.

“Dalam masyarakat besar dan kompleks, suara individu sering sulit terdengar. Melalui organisasi termasuk PSMTI, aspirasi dapat dihimpun, dirumuskan, lalu disampaikan secara lebih sistematis kepada pemerintah maupun masyarakat,” paparnya.

Sementara itu, sesi penutup diisi pembekalan penguatan organisasi oleh Thomas More. Ia menyoroti pentingnya kualitas sumber daya manusia dalam menjaga keberlangsungan organisasi.

Thomas juga mengingatkan bahwa dinamika dan konflik internal merupakan hal yang wajar dalam organisasi, namun harus diselesaikan secara dewasa agar tidak menghambat jalannya roda organisasi.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60