BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) terus memperkuat komitmennya dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) melalui perluasan jejaring internasional dan penguatan kolaborasi global.
Langkah tersebut menjadi bagian dari implementasi SDGs poin ke-17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.
Komitmen itu diwujudkan melalui penjajakan kerja sama antara Unusa dengan Kyoto Computer Gakuin atau KCGI Jepang dalam pengembangan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk transformasi pendidikan tinggi.
Peluang kolaborasi tersebut mengemuka dalam kegiatan guest lecture bertajuk AI Architecture in Higher Education yang menghadirkan Prof. Ananda Nepal di Auditorium Unusa Lantai 9.
Dalam pemaparannya, Prof. Ananda Nepal menjelaskan bahwa perkembangan teknologi AI telah mengubah wajah pendidikan tinggi di berbagai negara.
Salah satu konsep yang kini berkembang adalah pengakuan kredit akademik melalui pembelajaran mandiri berbasis sertifikat digital atau independent study.
Menurut dia, mahasiswa tidak lagi hanya memperoleh kompetensi melalui pembelajaran konvensional di ruang kelas. Platform global seperti Coursera, edX, hingga pelatihan industri profesional mulai menjadi sumber pembelajaran alternatif yang diakui secara akademik.
“Mahasiswa dapat memperoleh kompetensi dari berbagai platform pembelajaran global maupun pelatihan industri profesional,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sertifikat digital yang diperoleh mahasiswa nantinya dapat diverifikasi menggunakan sistem berbasis AI.
Teknologi tersebut berfungsi memastikan keaslian dokumen, kesesuaian materi pembelajaran, hingga relevansinya dengan capaian pembelajaran di perguruan tinggi.
Meski demikian, proses akademik tetap melibatkan peran dosen dan fakultas sebagai penentu akhir sebelum kredit atau satuan kredit semester (SKS) diberikan kepada mahasiswa.
“Setelah diverifikasi AI, proses peninjauan akademik tetap dilakukan fakultas dan dosen sebelum kredit diberikan,” katanya.
Prof. Ananda Nepal menilai, perkembangan tersebut menunjukkan perubahan paradigma pendidikan tinggi. Universitas tidak lagi menjadi satu-satunya ruang memperoleh kredit akademik, melainkan institusi yang berperan mengakui kompetensi dari beragam sumber pembelajaran.
Selain membahas sistem pengakuan kredit akademik, ia juga memaparkan pemanfaatan AI dalam mengubah aktivitas akademik menjadi media publik berbasis digital.
Aktivitas seperti kuliah, seminar, praktikum, hingga proyek mahasiswa dinilai dapat diolah menjadi berbagai bentuk konten edukatif yang lebih luas jangkauannya.
Data pembelajaran berupa video, audio, maupun transkrip dapat diproses menggunakan AI untuk menghasilkan ringkasan materi, penerjemahan multibahasa, hingga pengelompokan informasi secara otomatis agar lebih mudah diakses masyarakat.
“Hasilnya dapat dipublikasikan dalam bentuk podcast, video edukasi, maupun micro-credentials yang bisa dimanfaatkan lebih luas,” ujarnya.
Ia menilai konsep tersebut berpotensi mendorong perguruan tinggi menjadi pusat distribusi pengetahuan digital, bukan sekadar ruang pembelajaran formal di dalam kelas.
Dalam sesi diskusi, Prof. Ananda Nepal juga mengungkapkan sejumlah peluang kerja sama yang dapat dikembangkan antara KCGI Jepang dan Unusa.
Beberapa di antaranya meliputi pertukaran mahasiswa dan dosen, student and staff inbound, joint courses, hingga kolaborasi riset di bidang teknologi dan AI.
“Dalam hal ini kita bisa menentukan bidang kolaborasi yang dapat dikembangkan bersama,” katanya.
Sementara itu, Wakil Rektor III Unusa Prof. Bambang Sektiari Lukiswanto menyambut positif peluang kolaborasi internasional tersebut.
Menurut dia, kerja sama global di lingkungan perguruan tinggi harus diarahkan pada implementasi konkret yang memberikan dampak langsung bagi sivitas akademika.
Ia berharap kolaborasi dengan KCGI Jepang dapat membuka peluang lebih luas bagi mahasiswa dan dosen Unusa untuk memperdalam penguasaan teknologi AI sekaligus memperkuat kompetensi global di tengah percepatan transformasi digital dunia pendidikan.


















