Pendidikan

Cetak Dokter Spesialis, UNUSA Terima Angkatan Perdana PPDS Paru dan Obgyn

1
×

Cetak Dokter Spesialis, UNUSA Terima Angkatan Perdana PPDS Paru dan Obgyn

Sebarkan artikel ini
Unusa
Momen foto bersama usai acara pengukuhan mahasiswa PPDS Unusa angkatan pertama.

BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) resmi memasuki babak baru dalam pengembangan pendidikan kedokteran dengan menerima 10 mahasiswa angkatan pertama Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS).

Mereka terbagi dalam dua program studi, yakni Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi (Paru) serta Obstetri dan Ginekologi (Obgyn).

Pembukaan PPDS tersebut menjadi tonggak penting bagi Fakultas Kedokteran Unusa yang kini ikut berperan dalam mencetak dokter spesialis untuk menjawab kebutuhan nasional sekaligus mendukung pemerataan layanan kesehatan di berbagai daerah.

Rektor Unusa, Prof Tri Yogi Yuwono, mengatakan penyelenggaraan PPDS merupakan amanah yang diberikan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bersama Kementerian Kesehatan kepada perguruan tinggi yang memiliki kapasitas dan mutu pendidikan yang telah diakui secara nasional.

Menurutnya, kepercayaan tersebut tidak hanya menjadi pengakuan terhadap kualitas Fakultas Kedokteran Unusa yang telah meraih akreditasi Unggul, tetapi juga membawa tanggung jawab besar untuk menghasilkan dokter spesialis yang kompeten dan berintegritas.

“Kepercayaan untuk menyelenggarakan PPDS merupakan amanah yang harus kami jalankan dengan penuh tanggung jawab. Fakultas Kedokteran Unusa telah meraih akreditasi Unggul, sehingga kami berkewajiban menghadirkan pendidikan dokter spesialis yang berkualitas sekaligus berkontribusi menjawab kebutuhan nasional akan dokter spesialis,” ujarnya.

Tri Yogi menjelaskan, pembukaan PPDS Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi serta PPDS Obstetri dan Ginekologi merupakan bagian dari dukungan Unusa terhadap program pemerintah dalam mempercepat pemenuhan dan pemerataan dokter spesialis, terutama di wilayah yang masih mengalami kekurangan tenaga medis.

Karena itu, Unusa tidak hanya menitikberatkan pada mutu pendidikan, tetapi juga memastikan lulusannya memiliki komitmen untuk kembali mengabdi di daerah asal setelah menyelesaikan pendidikan.

Komitmen tersebut telah dituangkan dalam surat pernyataan yang ditandatangani seluruh mahasiswa angkatan pertama.

Melalui mekanisme itu, para peserta menyatakan kesiapan kembali bertugas di instansi maupun daerah asal masing-masing setelah lulus sebagai dokter spesialis.

“Kami berharap keberadaan PPDS ini memberikan dampak nyata terhadap pemerataan layanan kesehatan, khususnya di Jawa Timur dan Indonesia secara umum,” katanya.

Di sisi lain, Tri Yogi menegaskan penyelenggaraan PPDS di Unusa dibangun dengan budaya akademik yang menjunjung tinggi profesionalisme dan penghormatan terhadap martabat peserta didik.

Unusa
Rektor Unusa, Prof. Dr. Ir. Tri Yogi Yuwono, DEA, IPU, ASEAN.Eng., dan Dekan Fakultas Kedokteran Unusa, Prof Budi Santoso, saat wawancara.

Ia memastikan tidak ada ruang bagi praktik perploncoan maupun segala bentuk kekerasan di lingkungan kampus.

“Saya tidak akan mentoleransi segala tindakan kekerasan yang terjadi dalam lingkungan Unusa. Sekarang kami juga memiliki Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi yang selalu siaga,” tegasnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Unusa, Prof Budi Santoso, mengungkapkan mahasiswa angkatan pertama berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur.

Bahkan, terdapat peserta yang berasal dari wilayah kepulauan Masalembu, daerah yang selama ini masih menghadapi keterbatasan akses terhadap dokter spesialis.

Menurutnya, keberagaman asal mahasiswa menunjukkan tingginya kebutuhan tenaga dokter spesialis di berbagai wilayah.

“Latar belakang mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah menunjukkan bahwa kebutuhan dokter spesialis memang sangat besar. Kami berharap setelah menyelesaikan pendidikan, mereka kembali membawa kompetensi terbaik untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di daerah masing-masing,” ujarnya.

Program PPDS Unusa diselenggarakan dengan dukungan rumah sakit pendidikan, tenaga dosen, serta dokter pendidik klinis berpengalaman.

Kurikulumnya dirancang untuk menghasilkan dokter spesialis yang tidak hanya unggul dalam kompetensi klinis, tetapi juga memiliki kemampuan penelitian, pendidikan, serta kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat.

Angkatan pertama PPDS Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi diikuti dr Daniyar Yuanita dari Tuban, dr Egy Bagus Prasetya dari Jember, dr Ivan Aldiansyah Halim dari Tulungagung, dr Aden Nur Iman dari Mojokerto, dan dr Wilma Kartikaning Tanjung dari Surabaya.

Adapun PPDS Obstetri dan Ginekologi diikuti dr Sonia Elvira Salim dari Surabaya, dr Annisa Nurisyauqi dari Masalembu, dr Novita Kusumah Iswanto dari Lamongan, dr Ardita Faradhita Hidayah dari Probolinggo, serta dr Riski Ayu Lahwida dari Kediri.

Pembukaan PPDS di Unusa juga selaras dengan agenda nasional percepatan pemenuhan dokter spesialis. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, Indonesia saat ini baru mampu menghasilkan sekitar 2.700 dokter spesialis setiap tahun, sedangkan kebutuhan ideal diperkirakan mencapai sekitar 32.000 dokter spesialis per tahun.

Kesenjangan tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah memperluas penyelenggaraan pendidikan dokter spesialis di fakultas kedokteran yang memiliki kapasitas dan rekam jejak akademik yang baik, termasuk Fakultas Kedokteran Unusa.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60