BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Semangat berbagi di bulan suci Ramadan kembali digaungkan Lions Club Surabaya Shining. Organisasi sosial tersebut menggelar bakti sosial dan buka bersama bertajuk “Menyatukan Hati Dalam Kepedulian, For Humanitary and Hunger” pada Selasa (3/3/2026) di Club House Long Beach, Pakuwon City, Surabaya.
Kegiatan ini menjadi agenda tahunan yang konsisten digelar. Konsepnya serupa dengan tahun sebelumnya, yakni berbagi takjil kepada masyarakat sekitar.
Namun, pada Ramadan kali ini jumlah paket yang dibagikan meningkat signifikan menjadi 1.200 paket.
Peningkatan jumlah paket takjil itu bukan sekadar angka. Di baliknya, tercermin soliditas serta komitmen seluruh anggota dan pengurus LCS Shining dalam menjaga ritme kepedulian sosial.
Ramadan dijadikan momentum untuk memperkuat empati, sekaligus memperluas manfaat bagi warga yang membutuhkan.
Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan penuh dari PT Matahari Sakti. Perusahaan itu selama ini konsisten memberikan sokongan pada setiap agenda sosial LCS Shining.
Kolaborasi antara komunitas dan sektor swasta menjadi model sinergi yang patut diapresiasi, karena menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.
Salah satu pengurus senior LCS Shining, Lilies Sugianto atau yang akrab disapa Bunda Lilies, menyampaikan harapannya agar organisasi ini semakin diberkati dan mampu memperluas jangkauan aksi sosialnya.

“Dengan demikian semoga tahun depan kita berbaginya lebih banyak lagi,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan semacam ini bukan hanya memberi manfaat langsung kepada masyarakat, tetapi juga memiliki arti strategis bagi kehidupan berbangsa.
Ia meyakini praktik berbagi mampu meminimalkan sekat sosial antara kelompok yang memiliki kemampuan ekonomi lebih dengan mereka yang kurang beruntung.
Berbagi, lanjutnya, adalah cara sederhana namun efektif untuk membangun kesadaran kolektif tentang kesetaraan.
Pesan damai yang ingin diusung pun dimulai dari lingkup paling kecil: diri sendiri.
Ia menekankan pentingnya setiap individu berdamai dengan diri sendiri sebelum berbicara tentang harmoni sosial.
Kesadaran personal itu, menurutnya, akan meluas menjadi kesadaran komunal tentang pentingnya hidup rukun di tengah perbedaan.
“Kita yang memiliki kelebihan rezeki bisa berbagi dan memberikan contoh untuk senantiasa menjunjung nilai kebersamaan,” tuturnya.
Bunda Lilies juga berpesan agar mereka yang memiliki harta berlebih tidak merasa lebih tinggi dari yang lain. Sebaliknya, masyarakat yang kurang mampu tidak perlu merasa rendah diri, sebab pada hakikatnya semua manusia memiliki derajat yang setara.
Dalam praktiknya, LCS Shining tidak hanya bergerak di bulan Ramadan. Organisasi ini secara rutin menggelar berbagai kegiatan sosial seperti pemeriksaan kesehatan gratis, bantuan pendidikan bagi anak kurang mampu, serta dukungan bagi panti asuhan dan lansia.
Fokus utama mereka adalah isu kemanusiaan, kesehatan, dan pengentasan kelaparan—selaras dengan semangat yang diusung dalam tema kegiatan tahun ini.
Pembagian takjil di bulan Ramadan sendiri memiliki makna sosial dan spiritual yang mendalam. Secara keagamaan, memberi makanan untuk berbuka puasa diyakini sebagai amalan berpahala. Secara sosial, kegiatan ini mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam satu momentum kebersamaan. Di ruang publik, takjil menjadi simbol bahwa kepedulian tidak mengenal batas kelas sosial.
Di tengah dinamika perkotaan Surabaya yang kian kompleks, aksi sederhana seperti berbagi 1.200 paket takjil menjadi pengingat bahwa solidaritas sosial tetap hidup.
Ramadan bukan hanya soal ibadah personal, tetapi juga tentang menghadirkan manfaat yang konkret bagi sesama.


















