BERITABANGSA.ID, BOJONEGORO – Sial dialami siswa TK di Kota Bojonegoro ini. Usai menyantap jatah makan bergizi gratis (MBG), lemas dan muntah, di hari pertama MBG Ramadan.
Wali murid anak TK ini, enggan disebut namanya, menceritakan anaknya mengalami muntah satu jam usai mengkonsumsi telur puyuh rebus dari menu MBG yang berisi 4 butir di dalam wadah mika.
“Saat anak saya makan karena telurnya sudah dia kupas sendiri, setelah dia kunyah anak saya baru ngomong kalau telurnya bau dan belenyek. Abis itu saya larang makan sisanya yang beberapa butir, selang satu jam anak saya muntah ada lima kali,” terangnya.
Setelah mengetahui anaknya muntah dia memberikan obat guna pertolongan pertama, serta mengadukan hal tersebut kepihak sekolah tempat MBG dibagikan.
“Tadi sore pihak SPPG sempat datang ke rumah untuk meminta maaf, dan membenarkan jika pada hari Senin kemarin ada kekeliruan di proses steamer telurnya. Untuk beberapa sekolah juga sudah diganti Iangsunh, saat adanya komplain,” ucapnya, Selasa (24/2/2026).
Diduga hal ini terjadi akibat kecerobohan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam memberikan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Saat dikonfirmasi, Kepala SPPG Sumbang, Sela menjelaskan setelah mengetahui keluhan tersebut pihaknya segera melakukan konfirmasi kepada orang tua dan menjenguk siswa yang bersangkutan.
Menurutnya, orang tua siswa telah mengecek telur yang diduga kurang matang hingga mengakibatkan si anak menderita muntah.
“Setelah kami konfirmasi dan menjenguk, kondisinya sudah baik. Orang tuanya juga sudah mengecek makanan sebelumnya. Namun karena namanya anak kecil, tetap dimakan. Memang kondisi anaknya saat itu kurang fit, lalu muntah-muntah. Setelah diberi Lacto B, Alhamdulillah sudah aman,” ujar Sela.
Dia menegaskan kejadian itu bukan disebabkan makanan basi, melainkan diduga karena tingkat kematangan telur puyuh yang kurang sempurna.
“Kalau menurut kami bukan basi, tapi tingkat kematangannya kurang sempurna. Bukan basi, tapi kurang matang,” tegasnya.
Sela mengakui, ukuran telur puyuh yang kecil membuat proses pengecekan satu per satu sulit dilakukan karena tidak dibuka satu-satu. Dalam satu kali perebusan, satu steamer diisi 12 loyang. Kondisi yang terlalu penuh diduga menyebabkan panas tidak merata, terutama pada bagian bawah, sehingga ada telur yang kurang matang.
Sebagai tindak lanjut, pihaknya langsung melakukan evaluasi internal dan menegur tim dapur agar lebih berhati-hati. Jumlah loyang dalam satu kali perebusan kini dikurangi menjadi 10 agar panas lebih merata.
“Kami sudah reject ulang dan melakukan perebusan tambahan beberapa menit. Sudah kami evaluasi juga agar tidak lagi 12 loyang, cukup 10 loyang saja supaya lebih merata,” jelasnya.
Selanjutnya, dilakukan penggantian telur setelah mendapat laporan bermasalah di hari yang sama ke sekolah. Kejadian terjadi diduga akibat saat proses pemasakan yang belum matang sempurna hingga telur menjadi masalah.
Kepala SPPG ini menjamin jika keamanan dalam proses perebusan sudah sesuai standar aturan, dan estimasi waktu dari matang hingga distribusi sekitar tiga jam masih dalam batas aman.
“Bahkan, telur rebus dengan kematangan sempurna umumnya bisa bertahan hingga sore atau malam hari, dan adanya kejadian ini menjadi bentuk evaluasi kami agar tidak terulang kembali serta, memastikan kualitas juga keamanan menu MBG tetap terjaga,” tegasnya.


















