Pendidikan

Doktor ITS Rancang Solar Tracker-Rainfall Collector, Energi Surya Optimal di Musim Hujan

15
×

Doktor ITS Rancang Solar Tracker-Rainfall Collector, Energi Surya Optimal di Musim Hujan

Sebarkan artikel ini
Energi Surya
Dr Akhmad Musafa ST MT (berdiri) saat menjelaskan sistem yang akan dibuatnya kepada para mahasiswa.

BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Ketergantungan pada baterai dalam sistem energi surya menyisakan persoalan umur pakai dan limbah. Dari kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember, lahir solusi alternatif.

Dr Akhmad Musafa ST MT, lulusan program doktor ITS, mengembangkan model Solar Tracker-Rainfall Collector (STRC) yang terintegrasi dalam sistem Photovoltaic-Pumped Hydro Storage-Rainfall Storage (PV-PHS-RS).

Inovasi ini mengganti fungsi baterai konvensional dengan pumped hydro storage (PHS). Sistem tersebut memanfaatkan dua reservoir air sebagai media penyimpanan energi listrik.

Musafa menjelaskan, pada siang hari panel photovoltaic (PV) menangkap sinar matahari dan mengubahnya menjadi energi listrik.

Energi itu dipakai untuk memompa air dari reservoir bawah ke reservoir atas. Proses tersebut menjadi fase penyimpanan energi.

Ketika malam tiba atau intensitas cahaya matahari menurun, air dari reservoir atas dialirkan kembali ke bawah melalui turbin yang terhubung dengan generator. Putaran turbin menghasilkan listrik.

“Secara sederhana, mekanismenya seperti charging dan discharging pada baterai, tetapi medianya air,” ujarnya.

Menurut dia, pendekatan ini lebih ramah lingkungan karena tidak menghasilkan limbah baterai. Selain itu, umur sistem relatif lebih panjang dan perawatannya lebih sederhana.

Musafa juga mengantisipasi tantangan produksi listrik saat musim hujan. Ia memasang Solar Tracker untuk mengoptimalkan sudut tangkap sinar matahari sepanjang hari.

Sementara Rainfall Collector difungsikan menampung air hujan dan langsung mengisi reservoir atas.

Air hujan yang terkumpul tetap dapat digunakan untuk memutar turbin. Dengan demikian, sistem tidak sepenuhnya bergantung pada intensitas matahari. Integrasi ini dinilai cocok untuk wilayah tropis yang memiliki dua musim ekstrem.

Disertasinya dibimbing Guru Besar Departemen Teknik Elektro ITS Prof Dr Ir Mauridhi Hery Purnomo MEng, dengan co-promotor Dr Eng Ardyono Priyadi ST MEng dan Vita Lystianingrum BP ST MSc PhD.

Riset tersebut merupakan pengembangan dari ketertarikannya pada teknologi photovoltaic sejak 2016.

Ketertarikan itu menguat saat ia terlibat dalam program hibah kerja sama ITS dengan Universitas Budi Luhur, tempatnya mengajar.

Topik energi surya juga dibawa mahasiswa bimbingannya dalam ajang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).

Ke depan, Musafa berharap model PV-PHS-RS dapat diterapkan di daerah yang belum sepenuhnya terjangkau jaringan listrik.

Energi yang dihasilkan bisa dimanfaatkan untuk irigasi pertanian, posyandu, hingga klinik di wilayah terpencil.

Inovasi ini sekaligus mempertegas komitmen ITS dalam pengembangan energi bersih. Sistem STRC dan PV-PHS-RS menjadi contoh bahwa solusi teknologi tidak selalu harus mahal dan kompleks.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60