BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Nyeri dan rasa kebas akibat neuropati menjadi keluhan para penderita diabetes. Berangkat dari sini, dosen Fakultas Keperawatan dan Kebidanan (FKK) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Iis Noventi, menemukan inovasi Jatu Hydroterapi Herbal, terapi komplementer berbasis bahan alami.
Jatu Hydroterapi Herbal merupakan formulasi herbal yang tersusun dari berbagai bahan alam, antara lain lombok merah, jinten hitam, kunyit, delingu, jahe, kayu manis, cuka apel, dan garam laut.
Terapi ini diterapkan melalui perendaman kaki menggunakan air es yang telah dicampur dengan komposisi herbal tersebut.
Iis menjelaskan, inovasi ini lahir dari kepeduliannya terhadap penderita diabetes yang kerap mengalami nyeri neuropati. Kondisi tersebut sering kali mengganggu kenyamanan dan aktivitas sehari-hari pasien.
Melalui pendekatan keperawatan berbasis bukti, ia berupaya menghadirkan alternatif terapi yang aman dan mudah diaplikasikan.
Pengembangan Jatu Hydroterapi Herbal bermula dari dukungan pendanaan matching fund internal Unusa. Sejak awal, Iis menegaskan bahwa peracikan dilakukan dengan mengacu pada evidence-based practice, sehingga setiap bahan yang digunakan memiliki dasar ilmiah dan pertimbangan keamanan.
Inovasi ini didaftarkan untuk paten sejak 2023 dan resmi memperoleh sertifikat paten pada 2025. Proses menuju pengakuan tersebut tidak singkat.
Iis melakukan riset berkelanjutan, termasuk penelusuran bahan hingga ke Jawa Tengah, mengikuti pelatihan rempah bersama Agradaya Yogyakarta, serta berdiskusi dengan pakar dari Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
Untuk menguji efektivitas terapi, Iis menggandeng Puskesmas Sawahan sebagai mitra penelitian lapangan.
Penelitian tersebut melibatkan 60 penderita diabetes yang dibagi ke dalam tiga kelompok perlakuan. Kelompok pertama menjalani perendaman kaki dengan air dingin, kelompok kedua menggunakan Jatu Hydroterapi Herbal dengan air dingin, sedangkan kelompok ketiga mengombinasikan Jatu Hydroterapi Herbal dengan senam kaki.
Hasil penelitian menunjukkan, penurunan nyeri paling signifikan terjadi pada kelompok yang menjalani kombinasi terapi herbal dan senam kaki.
Efek penurunan nyeri juga terlihat pada kelompok yang menggunakan Jatu Hydroterapi Herbal tanpa senam kaki, sementara kelompok yang hanya direndam air dingin menunjukkan penurunan nyeri paling minimal.
Evaluasi berkala terhadap para responden memperlihatkan adanya penurunan keluhan nyeri dan kebas setelah menjalani terapi.
Namun, efektivitas terapi dinilai lebih optimal apabila dilakukan secara rutin dan dikombinasikan dengan aktivitas fisik sederhana seperti senam kaki.
Ke depan, Iis menargetkan pengembangan inovasi ini ke tahap riset lanjutan. Saat ini, Jatu Hydroterapi Herbal masih berbentuk simplisia atau bahan kering.
Ia berencana menggandeng mitra penelitian untuk mengembangkan produk dalam bentuk ekstrak agar dapat difarmasikan dan dikomersialkan secara lebih luas.
Tujuan akhirnya, kata Iis, adalah menjadikan inovasi ini sebagai produk herbal terstandar yang terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan, sehingga memiliki kepastian mutu, keamanan, dan manfaat bagi masyarakat luas.
>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id.


















