Oleh: Kharizha Krishnandya (*)
Tepat hari ini, 10 Oktober 2024 dunia kembali mendengungkan dan merayakan Hari Kesehatan Mental Dunia yang menjadi momen reflektif untuk menyoroti pentingnya kesehatan mental, khususnya di kalangan dosen.
Beban kerja akademik yang tinggi seringkali mempengaruhi kesehatan mental dosen, baik di tingkat internasional maupun nasional, termasuk di Indonesia. Banyaknya tuntutan administratif, penelitian, dan publikasi, serta menghadapi dengan karakteristik generasi Z yang mendambakan self-disclosure tinggi alias pemburu validasi sehingga menuntut dosen untuk selalu memperbarui pendekatan pengajaran yang lebih dinamis dan inovatif.
Artikel ini akan mengkaji beban kerja akademik dosen dari perspektif kesehatan mental dalam konteks sosiologi hukum dan hukum kesehatan, serta memberikan saran untuk menciptakan lingkungan akademik yang lebih sehat.
Tuntutan Kualitas diantara Tumpang Tindih Beban Administrasi yang Melebihi Batas
Beban kerja akademik di institusi pendidikan tinggi global telah menjadi topik penelitian selama beberapa dekade. Berdasarkan data dari Global Education Monitoring Report UNESCO, dosen di berbagai negara menghadapi tantangan serupa, seperti tekanan untuk memenuhi tuntutan penelitian dan pengajaran yang berkualitas, sementara alokasi waktu dan dukungan institusi sering kali tidak memadai (UNESCO, 2022), tak ketinggalan juga di Indonesia, beban kerja dosen ditambah dengan kewajiban memenuhi target Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Berdasarkan laporan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tahun 2023, sebagian besar dosen di Indonesia melaporkan tingkat stres yang tinggi akibat tumpang tindih peran administratif dan tuntutan kinerja akademik yang semakin meningkat (Kemendikbudristek 2023).
Dampak yang ditimbulkan dari kondisi ini bukan hanya pada kesehatan mental dosen, tetapi juga pada kualitas pengajaran menghadapi generasi Z yang lebih terbiasa dengan teknologi dan memiliki cara belajar yang berbeda, ditambah lagi dengan tingkat fokus yang dimiliki Gen Z hanya bertahan dalam kurun waktu 15 detik, membuat dosen juga harus jungkir balik menyesuaikan metode pengajaran bagi mereka.








