BERITABANGSA.ID, BOJONEGORO – Masyarakat sekitar Gunung Pandan, kompak melakukan reboisasi atau penanaman pohon kembali.
Masyarakat melakukan aksi itu untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Para sesepuh, relawan, dan pecinta alam di Kecamatan Sekar, Bojonegoro, menanam ratusan bibit pohon kelapa dan jambe di sepanjang jalur pendakian Gunung Pandan, Minggu (8/11/2026).
Aksi ini dimulai sejak pagi, dan menjadi bentuk kepedulian masyarakat terhadap kondisi hutan yang dinilai semakin gersang.
Mbah Dampit, sesepuh Desa Klino yang kini berusia 87 tahun yang menginisiasi aksi penghijauan tersebut berharap kelestari Gunung Pandan tetap terjaga. Menurutnya alam bukan hanya tanggung jawab generasi sekarang, melainkan juga warisan yang harus diteruskan kepada anak cucu.
“Semoga langkah yang kita lakukan hari ini dapat menjadi contoh untuk menggerakkan banyak orang agar lebih peduli terhadap lingkungannya,” kata Mbah Dampit.
Pemilihan pohon kelapa dan jambe atau pinang bukan tanpa alasan. Selain dinilai cocok untuk penghijauan, pohon kelapa diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat maupun para pendaki yang melintasi kawasan tersebut. Terlebih, pohon kelapa relatif cepat menghasilkan buah.
“Dua sampai tiga tahun pohon kelapa sudah dapat berbuah. Jadi, kelak warga maupun pendaki yang naik ke Gunung Pandan bisa memetik buahnya,” tambahnya.
Kecintaan Mbah Dampit terhadap Gunung Pandan bukan hal baru. Tinggal di kawasan lereng membuatnya mengenal betul kondisi alam dan sumber daya yang dimiliki gunung tersebut. Gunung Pandan yang memiliki ketinggian sekitar 897 meter di atas permukaan laut (mdpl) merupakan salah satu puncak tertinggi dalam rangkaian Pegunungan Kendeng.
Menurutnya, Gunung Pandan bukan sekadar kawasan perbukitan dan hutan, tetapi juga menyimpan sumber mata air yang selama ini menjadi penopang kehidupan masyarakat di sekitarnya.
“Di sini terdapat banyak sumber mata air yang dapat menghidupi banyak orang. Karena itu, kami berharap generasi muda sebagai pewaris alam ini bisa menjaga Gunung Pandan dengan baik,” tuturnya.
Di tengah rencana pemerintah mengembangkan potensi panas bumi gunung pandan untuk pembangkit listrik, Mbah Dampit memilih bersikap hati-hati. Ia tidak ingin terburu-buru menyatakan menerima ataupun menolak rencana eksploitasi tersebut. Namun, ia berharap setiap kebijakan yang menyangkut masa depan Gunung Pandan benar-benar mempertimbangkan keberlangsungan lingkungan dan kehidupan masyarakat setempat.
“Pada prinsipnya, kami sebagai masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Pandan tidak ingin terburu-buru menyatakan menerima ataupun menolak rencana tersebut. Kami memahami bahwa pemerintah memiliki tujuan untuk mengembangkan energi baru terbarukan dan memenuhi kebutuhan listrik masyarakat,” ungkapnya.
Namun, menurut dia, Gunung Pandan tidak semestinya hanya dipandang dari potensi energi panas bumi yang tersimpan di dalamnya. Kawasan tersebut juga memiliki fungsi ekologis dan menjadi ruang hidup masyarakat yang selama ini menggantungkan kehidupan pada alam sekitarnya.
“Kami berharap pemerintah tidak hanya melihat Gunung Pandan dari sisi potensi panas buminya, tetapi juga mempertimbangkan kondisi lingkungan, sumber mata air, kawasan hutan, serta kehidupan masyarakat yang selama ini bergantung pada alam sekitarnya,” harapnya.















