Opini

Merawat Iman Sejak Dini: Strategi NU Membentuk Generasi Beriman di Era Digital

2
×

Merawat Iman Sejak Dini: Strategi NU Membentuk Generasi Beriman di Era Digital

Sebarkan artikel ini
Generasi beriman

Tantangan pendidikan iman hari ini juga datang dari dunia digital. Anak-anak dapat memperoleh pengetahuan agama melalui internet, tetapi mereka juga berisiko menerima informasi yang tidak tepat atau penjelasan keagamaan yang tidak sesuai dengan tahap perkembangannya.
NU telah melakukan berbagai upaya untuk mendorong pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan, termasuk melalui penguatan literasi digital dan pelatihan pembuatan video pembelajaran bagi guru. Upaya ini dapat dikembangkan dengan menghadirkan media pembelajaran yang lebih menarik, seperti video edukatif, cerita digital, dan kuis interaktif untuk mengenalkan Al-Quran serta nilai-nilai akhlak kepada anak.

Meski demikian, penggunaan teknologi tetap perlu diimbangi dengan pendampingan guru dan orang tua agar anak mampu memilah informasi dan memahami ajaran agama secara tepat.

Teknologi bukan berarti pengganti keteladanan dan interaksi langsung, tetapi hanya alat untuk memudahkan anak dalam pembelajaran. Anak tetap membutuhkan percakapan yang terbuka, perhatian orang tua, dan pendidik yang bersedia mendengarkan pertanyaan mereka agar ikatan emosional antara pendidik dan murid tetap terasa, hal ini yang tidak bisa digantikan oleh siapapun.

Pendidikan iman harus mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya.

Pendidikan iman tidak akan berjalan optimal jika keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat bergerak sendiri-sendiri. Apa yang diajarkan di TPQ perlu diperkuat di rumah, sedangkan lingkungan masyarakat harus menyediakan ruang yang mendukung pembentukan akhlak anak.

Dalam membentuk generasi beriman, NU mengandalkan kolaborasi lembaga pendidikan keagamaan, seperti TPQ, madrasah, dan pesantren, yang turut melibatkan keluarga serta lingkungan masyarakat dalam pendidikan anak.

Upaya ini diwujudkan melalui pembelajaran Al-Quran, penanaman nilai-nilai akhlak, pembiasaan ibadah, dan kegiatan sosial yang mengajarkan kepedulian terhadap sesama.

Melalui keterlibatan berbagai lingkungan tersebut, pendidikan iman lebih mudah untuk dipahami juga dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, pembentukan karakter anak menjadi tanggung jawab bersama antara pendidik, orang tua, dan masyarakat.

Pada akhirnya, meningkatkan kualitas iman anak merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keteladanan, konsistensi, dan pendampingan. NU memiliki modal sosial dan kelembagaan untuk mengambil peran tersebut, tetapi modal itu perlu terus dikembangkan agar pendidikan agama tidak hanya kuat dalam tradisi, melainkan juga relevan dengan kebutuhan generasi masa kini.
Anak-anak tidak cukup hanya diajarkan untuk mengenal ajaran Islam.

Mereka perlu dibimbing agar mampu menghadirkan nilai-nilai Islam dalam tindakan nyata. Sebab, keberhasilan pendidikan iman bukan semata-mata terlihat dari apa yang mampu dihafalkan anak, tetapi juga dari nilai kebaikan yang perlahan tumbuh dalam dirinya.

(*) Penulis adalah mahasiswa UIN Malik Ibrahim Malang

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi beritabangsa.id.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 468x60