Terlebih, Surabaya merupakan kota metropolitan dengan karakter masyarakat yang dinamis dan heterogen.
“Persoalan yang menjadi PR bagi PPP, karena ini Surabaya meskipun pinggiran, maka pola-pola Ahlussunnah wal Jamaah akan kita kemas menjadi digitalisasi. Ini yang penting,” ujarnya.
Muhith mengatakan, PPP perlu membangun branding yang sesuai dengan karakter masyarakat di masing-masing wilayah, termasuk menjangkau generasi muda.
Perkembangan media sosial, menurut dia, tidak dapat lagi dipandang sebagai pelengkap, tetapi menjadi salah satu instrumen penting dalam membangun komunikasi politik.
“Kita akan mem-branding PPP ini sesuai dengan kondisi dan situasi masyarakat setempat. Khususnya generasi Z, kita harus paham apa kemauan mereka,” katanya.
Ia menilai pendekatan door to door tetap penting, tetapi tidak cukup untuk menjangkau masyarakat perkotaan dengan karakter komunikasi yang terus berubah.

Karena itu, kader dituntut mampu memanfaatkan media sosial dan berbagai kanal digital untuk memperkenalkan gagasan serta aktivitas partai.
“Bukan hanya mengandalkan door to door, tetapi bagaimana kita menjual sesuatu yang memungkinkan untuk bisa direspons oleh generasi muda dan masyarakat Kota Surabaya,” imbuhnya.
Muhith menegaskan, modernisasi komunikasi politik menjadi salah satu pekerjaan rumah PPP agar partai mampu menyatu dengan perkembangan masyarakat perkotaan.
“Kita harus modernisasikan, supaya PPP bisa menyatu dengan masyarakat dan branding-nya juga harus modern. Ini yang penting, apalagi Dapil V sudah teruji memperoleh satu kursi,” jelasnya.
Ia juga menyebut PPP memiliki modal historis yang cukup kuat. Partai tersebut berdiri pada 1973 dan memiliki keterkaitan sejarah dengan sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama, termasuk KH Idham Chalid yang pernah memimpin PBNU.
Karena itu, menurut Muhith, pemahaman kader terhadap sejarah dan identitas partai perlu diperkuat bersamaan dengan kemampuan membaca perubahan perilaku pemilih.
“PPP sudah marketable atau layak jual. Mayoritas di Dapil V ini juga warga Nahdliyin. Fokusnya adalah generasi muda karena sesuai survei, pemilih terbanyak adalah pemuda, sekitar 60 persen,” pungkasnya.















