u
Sedangkan, Eva Dewi, berpendapat lebih filosofis.
Kata dia peran guru tidak sekadar pengajar, transfer ilmu, namun mampu membentuk karakter siswa melalui kasih sayang dan keteladanan.
“AI pintar dan memberikan jawaban tetapi AI tidak mempunyai hati dan tidak bisa memberi makna,” akunya.
Rini Handajani, dari SMP SSA Negeri Wonokerto, Gucialit, menekankan di aspek karakter. Tugaa, guru tidak hanya mengajar mata pelajaran.
“Tugas guru yang utama itu adalah mendidik, membentuk karakter siswa,” tegasnya.
Siswa tidak cukup hanya pandai secara akademik, namun tetap harus memiliki perilaku, sopan santun dan adab.
Hal itu bisa dibentuk oleh guru. Eksistensi guru tetap penting dalam menyiapkan generasi yang berkarakter. Selain cerdas. “Siswa tetap butuh guru secara fisik, dan batin,” tegaanya lagi.
Mamik, guru SDN Tempeh Kidul 01, mengakui AI dapat membantu manusia dalam segala hal namun beda dengan pendidikan.
“AI itu hanya membantu tugaa guru bukan dalam hal mendidik,” jelasnya.
Karakter dibangun melalui kebiasaan, pendampingan dan proses panjang.
Kamil, guru SDI Al Ittihad Tukum, sependaoat bahwa AI dapat menjelaskan berbagai hal dengan cerdas, namun guru memiliki fungsi teladan yang tak bisa digantikan AI.
Guru tidak hanya berdiri di depan kelas sebagai penyampai materi, tetapi menjadi figur yang dilihat, diamati dan ditiru oleh peserta didik.
Sementara itu guru Siti Daroyah dari SDN Pakel 01, mengatakan AI dapat meniru pola pikir dan menyajikan informasi. Namun, aspek pendidikan terkait empati, nilai moral dan bimbingan jiwa bukan di AI.
“Hubungan emosional antara guru dan murid menjadi inti yang menegaskan bahwa esensi pendidikan melampaui sekadar transfer data,” bebernya.
Di tempat sama, Yuliana, Kepala Sekolah SMPN 02 Padang, meyakini guru tidak akan tergantikan oleh AI. Menurutnya, AI merupakan aplikasi, sedangkan guru adalah manusia yang memiliki peran dalam membentuk karakter peserta didik.
“Pembelajaran tidak hanya mengenai materi pelajaran tetapi juga yang terpenting adalah pendidikan karakter,” ujarnya.
Ada ukuran lain yang jauh lebih panjang: perilaku, tanggung jawab, sopan santun, empati, kedisiplinan dan kemampuan seorang anak menjalani kehidupan bersama masyarakat.
Justru AI berpotensi menjadi alat yang membantu guru bekerja lebih cepat, kreatif dan efisien. Artinya, pertanyaan tidak lagi apakah AI akan menggantikan guru, tetapi apakah guru akan mampu memanfaatkan AI tanpa menanggalkan perannya sebagai pendidik.
Guru tetap menjadi manusia yang menentukan bagaimana alat tersebut digunakan, untuk tujuan apa, dan nilai apa yang hendak ditanamkan kepada peserta didik.
AI memiliki kemampuan besar dalam mengolah informasi, menghasilkan jawaban dan membantu pekerjaan teknis.
Namun pendidikan memiliki dimensi lain: ada keteladanan, relasi, empati, pembiasaan, nilai, tanggung jawab dan karakter. Itu hanya bisa dilakukan oleh seorang guru.















