Sejarah

Kelahiran Bung Karno di Ploso Jombang Bikin TACB Nasional Penasaran

1
×

Kelahiran Bung Karno di Ploso Jombang Bikin TACB Nasional Penasaran

Sebarkan artikel ini
TACB
Ketua TACB Nasional, Surya Helmi di Sekretariat Titik Nol Soekarno dan rumah kelahiran Bung Karno di Ploso, Jombang, Rabu (9/9/2026).

BERITABANGSA.ID, JOMBANG – Tim Ahli Cagar Budaya Nasional (TACBN) menjawab penasarannya dengan mendatangi rumah kelahiran Sang Proklamator, Ir Soekarno atau Bung Karno di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Rabu (9/9/2026) lalu.

Mereka didampingi Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Provinsi Jawa Timur (Jatim), TACB Jombang dan para penelusur sejarah, budayawan, dan sesepuh masyarakat Ploso.

Ada pula perwakilan dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Timur dan Pembina Situs Persada Soekarno Kediri.

Mereka juga mampir di Sekretariat Titik Nol Soekarno dan melihat titik rumah kelahiran Bung Karno, 20 meter dari Sekretariat Titik Nol Soekarno.

Ketua TACBN mendapatkan penjelasan sejarah terkait Bung Karno lahir di Ploso pada 6 Juni 1902 dari penelusur sejarah dan TACB Jombang.

Ketua TACBN, Surya Helmi menjelaskan, sejak beberapa bulan lalu dia mendapat informasi adanya rumah kelahiran Bung Karno di Ploso, Jombang.

“Kami, Tim Ahli Cagar Budaya Nasional barusan menetapkan Titik Nol-nya Republik Indonesia, tempat proklamasi kemerdekaan di Pegangsaan Timur 56,” ujar Surya Helmi.

“Saya lantas berpikir, Titik Nol-nya yang memproklamirkan itu di mana. Tentu harus dicari kejelasan, karena saat ini ada dua pihak, yakni Surabaya dan Ploso Jombang. Nah ini harus segera dicari penjelasan. Kesepakatan nasional,” beber Surya Helmi.

Untuk itu Surya Helmi mendorong agar pemerintah daerah setempat memiliki inisiatif untuk menginisiasi forum yang menelorkan kesepakatan nasional tentang sejarah kelahiran Bung Karno.

“Harus segera dicari, bagaimana mencari kesepakatan nasional ini. Sehingga masyarakat tidak bingung,” ujar Surya Helmi.

Nantinya lanjut Surya Helmi, jika sudah ada kesepakatan nasional bahwa Ploso merupakan tempat lahir Bung Karno dan menjadi cagar budaya, maka rumah kelahiran Bung Karno di Surabaya harus dihapus sebagai cagar budaya.

Begitu pula sebaliknya, imbuh dia, jika Surabaya disepakati sebagai tempat lahir Bung Karno, maka Ploso juga harus dihapus.

“Jadi tidak ada dualisme kelahiran. Dan setelah ditetapkan sebagai cagar budaya, baru diusulkan jadi peringkat nasional,” tandas Surya Helmi.

Menurut Surya Helmi, dirinya sangat konsen terhadap permasalahan kelahiran Bung Karno.

“Karena apapun, ini kan pendiri bangsa. Nah kalau pendiri bangsa ‘ndak’ tahu kelahirannya, bagaimana yang lain-lain,” ungkapnya.

Disinggung lebih lanjut apa yang bisa didorong di tingkat kementerian oleh TACBN terkait sejarah kelahiran Bung Karno di Ploso, Surya Helmi berharap Menteri Kebudayaan RI sudah mengetahui hal ini.

“Cuma kalau saya ada kesempatan, nanti saya akan mengingatkan Pak Menteri lagi. Mudah-mudahan ada solusinya, tapi saya minta daerah juga TACB-nya harus segera dilengkapi. Kalau sewaktu-waktu diminta naskah, harus segera disiapkan oleh TACB yang ‘qualified’, yang sah secara legalitas hukum,” beber Surya Helmi.

“Dan mudah-mudahan Pak Bupati juga punya niat untuk daerahnya. Kalau sejarah ‘nggak’ usah sungkan-sungkan,” imbuhnya,memungkasi.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60