Menurutnya, semangat tersebut merupakan bagian dari implementasi motto “Wiga Berdampak.”
“Kami berharap kehadiran mahasiswa KKN ITB Widya Gama Lumajang di Desa Yosowilangun Kidul ini dapat memberikan dampak positif secara langsung bagi masyarakat. Ini sejalan dengan motto kampus kami, Wiga Berdampak, di mana setiap kegiatan mahasiswa harus benar-benar dirasakan manfaatnya, tidak hanya bagi mahasiswa itu sendiri, tapi juga bagi masyarakat yang kami tempati,” ujar Alfi, Kamis (20/8/2026).
Ia menjelaskan, program kerja yang disusun tim KKN berupaya menjawab kebutuhan riil masyarakat sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan bermasyarakat.
Dengan demikian, KKN tidak hanya menjadi proses belajar mahasiswa, tetapi juga menjadi momentum membangun kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa dan masyarakat.
Di balik sejumlah inovasi tersebut, terdapat satu pekerjaan rumah yang tidak boleh diabaikan: keberlanjutan program.
Website pelayanan desa membutuhkan pengelola. Pojok Oleh-Oleh membutuhkan sistem manajemen. UMKM membutuhkan pendampingan lanjutan. Digital marketing membutuhkan konsistensi. Legalitas usaha juga membutuhkan proses yang tidak selesai dalam satu kali pelatihan.
Karena itu, ukuran keberhasilan KKN seharusnya tidak hanya dihitung dari berapa banyak kegiatan yang dilaksanakan atau dokumentasi yang dihasilkan.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah program tersebut masih berjalan ketika mahasiswa sudah kembali ke kampus.
Jika website tetap digunakan, UMKM terus memasarkan produk secara digital, Pojok Oleh-Oleh berkembang, dan pelaku usaha semakin sadar pentingnya kemasan serta legalitas, maka semangat “Wiga Berdampak” benar-benar menemukan maknanya.
Sebaliknya, jika seluruh inovasi berhenti bersamaan dengan berakhirnya masa KKN, maka program tersebut hanya akan menjadi catatan kegiatan tahunan.
Karena itu, sinergi antara mahasiswa, pemerintah Desa Yosowilangun Kidul dan masyarakat menjadi faktor penentu.
KKN 2026 di Yosowilangun Kidul kini bukan hanya tentang mahasiswa datang membawa program. Lebih jauh, ini menjadi ujian apakah ilmu perguruan tinggi mampu diterjemahkan menjadi solusi yang bertahan di tengah masyarakat.
Sebab, dampak sejati bukan diukur dari meriahnya program ketika mahasiswa berada di desa, melainkan dari apa yang tetap hidup setelah mereka kembali ke kampus.


















