Pendidikan

Yayasan Khadijah Surabaya Gelar Semarak Agustus 2026, Tanamkan Patriotisme dan Nilai Pancasila

1
×

Yayasan Khadijah Surabaya Gelar Semarak Agustus 2026, Tanamkan Patriotisme dan Nilai Pancasila

Sebarkan artikel ini
Khadijah
Salah satu lomba dalam kegiatan Semarak Agustus Khadijah 2026.

Nilai tersebut menjadi relevan ketika pendidikan karakter tidak cukup hanya disampaikan melalui teori. Pancasila, misalnya, tidak berhenti sebagai lima sila yang dihafalkan siswa.

Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan keadilan sosial justru menemukan bentuk konkretnya ketika anak belajar bekerja sama, menghormati perbedaan, bersikap sportif, dan tidak merendahkan lawan.

Dalam konteks itu, peringatan HUT RI ke-81 di lingkungan sekolah menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan. Kemerdekaan diperkenalkan sebagai warisan sejarah sekaligus tanggung jawab yang harus diteruskan melalui perilaku dan karakter generasi muda.

Samsul mengatakan Yayasan Khadijah ingin momentum tersebut menumbuhkan patriotisme di kalangan siswa. Ia berharap para siswa tidak tumbuh sebagai “floating generation”, yakni generasi yang kehilangan pijakan nilai dan identitas, melainkan menjadi generasi yang memiliki kecintaan terhadap tanah air.

“Harapannya anak-anak menjadi generasi yang mempunyai patriotisme, tidak menjadi floating generation, tetapi menjadi generasi yang menanamkan rasa cinta tanah air dan bangga akan kemerdekaan Indonesia,” katanya.

Gagasan tersebut berhadapan langsung dengan realitas generasi muda saat ini. Anak-anak tumbuh di tengah ekosistem informasi yang tidak lagi mengenal batas geografis. Internet dan media sosial menghadirkan berbagai budaya, nilai dan perspektif dalam waktu bersamaan.

Karena itu, patriotisme tidak semestinya diterjemahkan sebagai penolakan terhadap dunia luar. Justru sebaliknya, rasa memiliki terhadap bangsa dapat menjadi fondasi agar generasi muda mampu menerima perubahan dan berinteraksi dengan dunia global tanpa kehilangan orientasi kebangsaan.

Samsul menyebut, tantangan serupa muncul dalam perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Teknologi yang semakin mudah diakses tersebut telah masuk ke ruang pendidikan dan menjadi bagian dari kehidupan belajar generasi muda.

Samsul menambahkan siswa di Yayasan Khadijah telah mendapatkan pemahaman mengenai penggunaan AI. Namun, pemanfaatannya tetap membutuhkan pendampingan agar teknologi tidak menggantikan proses berpikir siswa.

“Anak-anak perlu pendampingan bijak supaya tidak menjadi generasi yang statis, tetapi menjadi generasi yang kreatif dalam menggunakan AI untuk mendukung pembelajaran dan menghadapi tantangan era global,” ujarnya.

Menurut dia, AI semestinya ditempatkan sebagai instrumen pembelajaran, bukan mesin yang mengambil alih seluruh proses berpikir.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60