Lanjut Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) tersebut menjelaskan, munculnya kuman yang kebal terhadap antibiotik tidak semata-mata disebabkan penggunaan antibiotik pada manusia. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat di sektor lain, seperti pertanian dan perikanan, juga dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap munculnya resistensi.
“Karena pada dasarnya
bakteri pasti ada di seluruh makhluk hidup dan lingkungan, atau biasa disebut sebagai flora normal,” ungkapnya.
Untuk mencegah infeksi sekaligus menekan risiko resistensi antibiotik, masyarakat juga perlu memperkuat daya tahan tubuh dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
“Semua penyakit infeksi bisa dilawan oleh sistem imun yang kuat. Tetapi itu tidak didapatkan secara instan dan cuma-cuma,” katanya.
Ia menyebut pola hidup sehat harus dilakukan secara konsisten. Di antaranya dengan mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, menjaga pola istirahat, mengatur keseimbangan antara aktivitas dan pekerjaan, serta menjaga kondisi pikiran tetap positif.
Merry juga menjelaskan pentingnya pemeriksaan mikrobiologi pada pasien yang mengalami infeksi berkepanjangan atau tidak kunjung membaik. Dalam kondisi tersebut, dokter perlu mencari tahu agen infeksi yang menjadi penyebab penyakit.
Salah satu pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah kultur, yakni pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi dan mengidentifikasi mikroorganisme tertentu, terutama bakteri atau jamur. Sampel yang diperiksa disesuaikan dengan lokasi atau sumber infeksi pasien.
“Jika pasien batuk lama tidak sembuh-sembuh, kita ambil dahaknya untuk dilakukan pemeriksaan kultur. Jika ada luka yang tidak sembuh-sembuh akan diambil sampel nanah atau usap dasar luka dari area lukanya,” jelasnya.
Begitu pula pada pasien yang mengalami demam berkepanjangan, sampel darah dapat diperiksa. Sementara pasien dengan dugaan infeksi saluran kemih dapat menjalani pemeriksaan menggunakan sampel urine.
“Jadi sampelnya bisa apa saja, tergantung dari sumber infeksinya,” imbuhnya.
Dari pemeriksaan tersebut, dokter dapat memperoleh informasi mengenai mikroorganisme penyebab infeksi. Hasil itu kemudian menjadi salah satu dasar untuk menentukan terapi yang paling sesuai, termasuk jenis antibiotik yang tepat apabila memang diperlukan.
Karena itu, menurut dr. Merry, pemeriksaan laboratorium mikrobiologi bukan sekadar mencari tahu penyakit yang diderita pasien. Pemeriksaan tersebut juga menjadi bagian penting dalam memastikan pasien mendapatkan pengobatan yang tepat sasaran.
“Mari mencegah bakteri kebal antibiotik demi menjaga kesehatan diri sendiri dan lingkungan,” ajaknya.
Ia menambahkan, keberadaan laboratorium mikrobiologi dengan peralatan yang semakin canggih di RSUD Jombang diharapkan dapat membantu masyarakat mendapatkan layanan diagnosis infeksi yang lebih cepat dan akurat.
“Bahkan kami di RSUD Jombang ini sudah memiliki alat yang advance dan canggih, mampu mengidentifikasi dan mendeteksi virus dengan maksimal serta waktu yang cepat. Jika kita semua sehat maka kita akan merasakan tenang dan bahagia,” pungkas dr. Merry.


















