Terkini

Politik Pilkades Diiduga Korbankan Petani, Sawah di Mulyorejo Kering Akibat Rebutan Air

3
×

Politik Pilkades Diiduga Korbankan Petani, Sawah di Mulyorejo Kering Akibat Rebutan Air

Sebarkan artikel ini
Lahan
Beberapa lahan sawah di Desa Mulyorejo Kecamatan Balen, Kecamatan Bojonegoro terlihat kekeringan. Foto: Suyati/Beritabangsa.id

BERITABANGSA.ID, BOJONEGORO – Tak kunjung mendapat aliran air di lahan persawahan di Desa Mulyorejo, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro meski Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) sudah melakukan inspeksi mendadak beberapa waktu lalu usai mendapat aduan warga. Sawah warga hingga saat ini masih dilanda kekeringan.

Salah seorang warga Desa Mulyorejo, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan konflik yang terjadi pada lahan pertanian hingga tidak terairi diduga lantaran polemik pengelolaan pengairan sawah tidak lepas dari dinamika politik menjelang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) yang dijadwalkan berlangsung pada 2027 mendatang.

Menurut pengakuannya, di tengah masyarakat beredar isu bahwa pengusaha jasa pengairan sawah, Sugeng, akan maju sebagai calon kepala desa.

Selain itu, beredar pula isu bahwa kepala desa petahanan akan mengusung anggota keluarganya pada Pilkades mendatang.

“Pak Sugeng diisukan akan mencalonkan diri sebagai kepala desa. Sementara isu yang berkembang, kepala desa sekarang akan mencalonkan istri atau anaknya. Menurut dugaan saya, itu yang membuat Pak Sugeng tidak diperbolehkan lagi mengelola pengairan sawah di sini,” ujarnya Jumat (10/7/2026).

Terlepas dari dugaan tersebut, warga berharap persoalan yang terjadi tidak sampai mengorbankan kepentingan para petani yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian.

“Kalau memang ada persoalan atau kepentingan lain, seharusnya jangan sampai petani yang menanggung akibatnya. Sebelum menghentikan Pak Sugeng, mestinya sudah disiapkan dulu penggantinya supaya sawah tetap bisa diairi. Jangan kami yang menjadi korban,” lanjutnya.

Dia menambahkan, berdasarkan kebiasaan musim tanam di wilayah tersebut, pengolahan lahan umumnya sudah dimulai pada April hingga Mei. Namun hingga memasuki Juli 2026, para petani masih belum memperoleh kepastian kapan pasokan air akan kembali mengalir ke area persawahan.

“Biasanya bulan empat atau lima sudah mulai musim tanam. Sekarang sudah masuk bulan tujuh, tetapi kami belum tahu kapan sawah bisa diairi. Yang kami harapkan hanya satu, air segera mengalir agar kami bisa kembali menggarap sawah,” pungkasnya.

Perlu diketahui, beberapa waktu lalu saat di konfirmasi awak media ini Kepala DKPP Kabupaten Bojonegoro, Zainal Fanani, mengatakan hasil pengecekan yang dilakukan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) menunjukkan kondisi lahan tersebut belum dapat dikategorikan sebagai kekeringan pertanian.

Menurutnya, istilah kekeringan dalam sektor pertanian digunakan ketika terdapat tanaman yang mengalami kekurangan air. Sementara kondisi di Desa Mulyorejo saat ini masih berupa lahan bero atau lahan yang belum ditanami.

“Sudah dicek oleh PPL. Ternyata itu bukan kekeringan, Mas. Kekeringan itu artinya ada pertanaman yang kekurangan air. Kalau kasus di Mulyorejo itu tanah bero yang belum ada tanamannya, mau diolah tetapi belum ada air,” ujar Zainal Fanani.

Hingga saat ini saat dikonfirmasi kembali Kepala Desa Mulyorejo memilih bungkam.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60