Ia menambahkan, yang jauh lebih penting adalah bagaimana generasi muda dapat memahami pemikiran Bung Karno mengenai marhaenisme, Trisakti, dan berbagai gagasan kebangsaan yang masih relevan hingga saat ini.
“Paparan dari kedua pihak sangat menarik. Yang ingin kami gali sebenarnya bukan semata kontroversi tempat lahirnya, tetapi bagaimana pemikiran Bung Karno tentang marhaenisme, Trisakti, dan implementasinya hari ini bisa kembali dipahami generasi muda,” katanya.
Menurut Sumrambah, forum semacam ini juga menjadi bagian dari proses peningkatan kapasitas kader maupun kalangan muda agar memiliki wawasan yang lebih luas.
“Banyak mahasiswa yang hadir. Ini bagian dari proses upgrading agar keilmuan kita terus bertambah dan tidak monoton,” tandasnya.
Mengungkap Bukti-Bukti yang Diyakini Mengarah ke Ploso
Dalam sarasehan tersebut, sastrawan dan penulis asal Jombang, Binhad Nur Rohman, memaparkan hasil penelusurannya mengenai dugaan Bung Karno lahir di Ploso. Ia mengaku awalnya meyakini Bung Karno lahir di Surabaya sebagaimana yang selama ini tercantum dalam berbagai literatur sejarah.
Namun, keyakinannya mulai berubah setelah menelusuri berbagai cerita tutur masyarakat Ploso yang terus diwariskan secara turun-temurun.
“Lama-kelamaan saya terusik dengan cerita lisan yang berkembang. Pada rangkaian cerita itu, ketika Pak Soekeni mengajar di Ploso, Soekarno lahir,” kata Binhad.
Menurutnya, sejumlah tokoh yang disebut dalam cerita rakyat tersebut berhasil ditelusuri keberadaannya, mulai dari makam hingga garis keturunannya yang masih dapat ditemukan di wilayah Ploso.
“Menariknya, sosok-sosok lokal yang ada di dalam cerita tutur tersebut bukan tokoh fiktif,” ujarnya.
Binhad juga menunjukkan keberadaan bangunan bekas Sekolah Ongko Loro di Desa Rejoagung yang diyakini sebagai tempat Raden Soekeni Sosrodihardjo mengajar. Tidak jauh dari lokasi tersebut terdapat sisa pondasi rumah yang diyakini sebagai rumah dinas Soekeni sekaligus tempat kelahiran Bung Karno.
“Maka keyakinan saya setelah melakukan penelusuran, Bung Karno ini lahir di Ploso, Jombang. Bukan di Surabaya,” tegasnya.
Selain Binhad, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang turut memaparkan sejumlah temuan yang menguatkan dugaan bahwa Bung Karno lahir di Ploso. Di antaranya kisah orang yang merawat Bung Karno saat bayi hingga keberadaan ari-ari yang diyakini dimakamkan di wilayah tersebut.
Akademisi Unesa Minta Kajian Diperkuat
Di sisi lain, Dosen Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sekaligus anggota Dewan Kebudayaan Surabaya, RN Bayi Aji, menyampaikan bahwa berbagai literatur dan arsip resmi yang selama ini tersedia masih mencatat Surabaya sebagai tempat kelahiran Bung Karno.


















