BERITABANGSA.ID, BATU – Penat selepas rutinitas kerja kerap menuntut pelarian yang tidak sekadar menyenangkan, tetapi juga menenangkan. Di kawasan barat Malang, tepatnya di Kecamatan Ngantang, hadir sebuah destinasi yang menawarkan keduanya dalam satu paket.
Bugenvil City, sebuah kawasan rekreasi sekaligus penginapan, menjadi magnet baru bagi wisatawan yang mencari suasana alami dengan sentuhan fasilitas moderen.
Berlokasi di Jalan Mbah Legi, Desa Sumberagung, Bugenvil City berada di jalur penghubung Malang menuju Kediri dan Jombang. Jaraknya sekitar 35 kilometer dari Kota Malang dan 18 kilometer dari Kota Batu.
Meski tidak berada di pusat keramaian, akses menuju lokasi relatif mudah dijangkau. Justru letaknya yang sedikit tersembunyi menghadirkan pengalaman berbeda, menghadirkan kesan eksklusif sekaligus alami.
Setibanya di lokasi, pengunjung langsung disambut udara sejuk khas dataran tinggi dan lanskap hijau yang masih terjaga.
Kawasan ini menawarkan berbagai fasilitas, mulai dari cottage untuk menginap, area kuliner, ruang pertemuan, hingga wahana rekreasi keluarga. Tidak sedikit pula yang datang sekadar untuk melepas penat tanpa harus menginap.
Testimoni pengunjung menunjukkan daya tarik tempat ini tidak main-main. Salah satu wisatawan mengaku terkesan dengan kebersihan cottage, cita rasa kuliner, serta suasana yang begitu menenangkan.
Ia bahkan menyebut pengalaman berada di lokasi tersebut membuatnya betah berlama-lama karena pemandangan dan atmosfer yang menyegarkan.
Bugenvil City merupakan transformasi dari Ngantang Park yang diperkenalkan kembali pada pertengahan 2025. Perubahan ini tidak hanya sebatas nama, tetapi juga konsep.
Pengelola melakukan pembenahan besar dengan menonjolkan nuansa alam yang lebih kuat. Meski demikian, sejumlah wahana lama seperti go kart dan kolam renang tetap dipertahankan karena sudah memiliki basis penggemar.
Salah satu daya tarik utama kawasan ini adalah hamparan bunga bugenvil yang mendominasi hampir seluruh area. Tercatat sekitar tujuh ribu tanaman bugenvil ditanam untuk memperkuat identitas visual sekaligus memberikan pengalaman estetika bagi pengunjung.
Manajer Operasional Bugenvil City, Hilda Arista Sari, menjelaskan bahwa konsep utama yang diusung adalah perpaduan antara kenyamanan penginapan dan keindahan alam.
Seluruh area dirancang agar tetap terintegrasi dengan lanskap hijau, termasuk fasilitas kolam renang air panas.
Yang menarik, kolam tersebut tidak menggunakan sistem pemanas modern. Air dipanaskan secara tradisional menggunakan kayu bakar, sehingga menghasilkan sensasi yang lebih alami. Sumber airnya pun berasal langsung dari alam sekitar.
Tidak hanya itu, Bugenvil City juga memiliki kebun durian dengan sekitar 73 pohon dari berbagai varietas, seperti durian lokal, musang king, dan montong.
Keunikan lain yang jarang ditemukan di tempat wisata sejenis adalah kebijakan pengelola yang tidak menjual hasil panen durian. Buah yang matang justru dibagikan secara gratis kepada pengunjung.
Di sektor kuliner, menu bebek peking menjadi salah satu andalan yang banyak diburu.
Tidak sedikit pengunjung yang datang khusus untuk mencicipi hidangan tersebut. Selain wisata keluarga, kawasan ini juga difungsikan sebagai lokasi kegiatan komunitas maupun instansi.
Dengan kapasitas mencapai 200 hingga 300 orang, fasilitas meeting yang tersedia cukup lengkap. Mulai dari perangkat elektronik hingga layanan konsumsi telah disiapkan untuk menunjang kegiatan formal di luar kantor.
Melihat perkembangan tersebut, Kepala UPT Pengelola Prasarana Perhubungan Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur, Binsar Siregar, menilai Bugenvil City memiliki potensi besar sebagai destinasi unggulan.
Menurutnya, kombinasi antara lokasi, udara sejuk, panorama, dan kualitas kuliner menjadi kekuatan utama.
Namun demikian, ia mengingatkan pentingnya pengelolaan aksesibilitas. Lokasi Bugenvil City yang berada di jalur utama membutuhkan perhatian serius terkait lalu lintas.
Kelancaran akses keluar-masuk dinilai menjadi faktor krusial dalam menjaga kenyamanan pengunjung.
Menurut Binsar, pengalaman wisata tidak hanya ditentukan oleh apa yang ada di dalam kawasan, tetapi juga bagaimana pengunjung merasakan perjalanan menuju dan meninggalkan lokasi tersebut.


















