Pariwisata

Dihantam Himpitan Ekonomi, Kunjungan Wisatawan Rontok Hampir 40 Persen

19
×

Dihantam Himpitan Ekonomi, Kunjungan Wisatawan Rontok Hampir 40 Persen

Sebarkan artikel ini
Wisatawan

BERITABANGSA.ID, KOTA BATU – Suasana libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 di Kota Batu jauh dari gegap gempita. Harapan akan deru kendaraan dan riuh rendah pengunjung hanya menjadi angan. Geliat pariwisata justru tampak lesu. Biangnya adalah himpitan ekonomi yang melemahkan daya beli masyarakat dan cuaca yang tak bersahabat.

Angka pun bicara. Selama periode 13 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026, Kota Batu hanya berhasil menarik 674.195 kunjungan wisatawan. Jumlah ini jauh meleset dari target Dinas Pariwisata (Disparta) setempat yang mengejar angka 1,1 juta pengunjung. Realisasi hanya mencapai 61 persen dari harapan.

Penurunan menjadi terasa lebih tajam ketika dibandingkan dengan catatan gemilang tahun sebelumnya. Pada momen yang sama di Nataru 2024, Batu sempat menyedot 1.142.767 wisatawan. Artinya, terjadi kontraksi hampir 39 persen dalam satu tahun. Lesunya kunjungan terpantau di dua sektor utama, yakni objek daya tarik wisata (ODTW) hanya dikunjungi 565.436 orang, sementara sektor akomodasi hotel dan penginapan mencatat 108.192 kunjungan. Secara harian, penurunannya signifikan.

“Tahun lalu rata-rata bisa 20 ribu wisatawan per hari, namun kali ini hanya sekitar 6 ribu orang per hari,” ujar Kepala Disparta Kota Batu, Onny Ardianto, mengakui tren yang cukup terlihat.

Meski data masih bersifat sementara dengan laporan baru masuk 90,32 persen, gambaran umumnya telah jelas, liburan panjang kali ini sepi.

Onny Ardianto merinci dua faktor penyebab utama di balik merosotnya kunjungan. Faktor pertama bersifat struktural. Kondisi ekonomi nasional yang berdampak langsung pada ketatnya pengeluaran rumah tangga.

“Banyak masyarakat yang lebih berhati-hati mengatur pengeluaran. Jadi, anggaran liburan juga ikut diketatkan,” jelas Onny.

Imbas dari lemahnya daya beli ini adalah penundaan atau bahkan pembatalan rencana rekreasi. Faktor kedua datang dari alam: cuaca ekstrem. Intensitas hujan tinggi yang bertepatan dengan puncak liburan Nataru menjadi penghalang nyata.

“Cuaca kurang bersahabat, hujan deras terjadi hampir merata di momen libur. Itu sangat mempengaruhi keputusan wisatawan,” tukasnya.

Banyak calon pengunjung yang memilih untuk menunda perjalanan demi menghindari risiko. Meski begitu, Onny menegaskan bahwa magnet Kota Batu sebagai destinasi favorit tak sepenuhnya padam.

Destinasi legendaris seperti Jawa Timur Park Group, Selecta, hingga desa-desa wisata masih menjadi tujuan utama, baik bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Pendataan Disparta mencakup 91 akomodasi dan 44 daya tarik wisata, meski belum mencakup sektor kuliner serta homestay dan vila secara penuh. Dari sisi asal, dominasi wisatawan domestik masih kuat, dipimpin oleh Jawa Timur, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Untuk wisatawan mancanegara, Malaysia, Singapura, dan Thailand menjadi kontributor utama.

Lebih dalam lagi, Disparta juga membeberkan hasil survei digital sepanjang 2025 yang menggambarkan pola belanja wisatawan. Survei terhadap 1.000 responden menunjukkan rata-rata pengeluaran mencapai Rp6,2 juta per kunjungan, dengan durasi tinggal rata-rata 2,86 hari. Jika dirata-rata, pengeluaran wisatawan berada di kisaran Rp2,1 juta per orang per hari. Angka ini mencakup tiket wisata, akomodasi, kuliner, transportasi, hingga belanja oleh-oleh.

“Ini menjadi gambaran konkret kontribusi sektor pariwisata terhadap perputaran ekonomi daerah,” tandas Onny.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60