BERITABANGSA.ID, KEDIRI – Korp Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) PC PMII Kediri menekankan pentingnya media yang responsif gender dalam kegiatan bertajuk “Revitalisasi Gerakan Perempuan: Dari Rahim Sejarah Menuju Ekofeminisme Global” di Gedung Kwarcab, Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Jumat (24/4/2026).
Kegiatan ini diikuti kader KOPRI dari sejumlah daerah, seperti Kediri, Tulungagung, dan Purwokerto. Forum tersebut menjadi sarana penguatan perspektif gender bagi kader perempuan di tengah perkembangan media digital.
Ketua KOPRI PC PMII Kediri, Nuro Choiril, mengatakan media memiliki peran besar dalam membentuk persepsi publik, namun masih kerap menghadirkan narasi yang tidak berpihak pada perempuan.
Menurut dia, dalam sejumlah kasus kekerasan seksual, media sering kali tidak memberikan perlindungan yang memadai terhadap korban.
“Identitas korban kerap terekspos, sementara pelaku justru tidak ditampilkan secara jelas. Kondisi ini bisa memperparah trauma korban,” kata Nuro.
Ia menambahkan, dampak pemberitaan yang bias juga dapat memicu tekanan sosial terhadap korban, mulai dari stigma hingga hujatan di lingkungan sekitar.
Selain itu, Nuro menyoroti kecenderungan media sosial yang masih menjadikan perempuan sebagai objek konten.
“Tanpa disadari, perempuan sering ditempatkan sebagai objek. Karena itu, penting bagi perempuan untuk memiliki kesadaran bahwa dirinya adalah subjek yang memiliki posisi setara,” ujarnya.
Sementara itu, narasumber dari Ikatan Alumni PMII (IKA-PMII), Ellya Destiara, menilai media harus lebih berhati-hati dalam menyusun pemberitaan agar tidak memperkuat diskriminasi gender.
“Pemilihan kata, gambar, dan sudut pandang harus diperhatikan. Jangan sampai media justru membentuk opini publik yang merugikan perempuan,” kata Ellya.
Ia juga mendorong peningkatan literasi media di kalangan perempuan agar mampu menyaring informasi serta tidak mudah terpengaruh hoaks.
Selain itu, Ellya mengajak perempuan untuk berani melapor apabila mengalami kekerasan.
“Banyak lembaga yang bisa memberikan perlindungan. Media juga memiliki tanggung jawab melalui kode etik jurnalistik,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, KOPRI PMII Kediri berharap kader perempuan semakin memiliki kesadaran kritis terhadap isu gender dan mampu mendorong terciptanya media yang lebih adil dan inklusif.


















