Pendidikan

Selat Hormuz Terancam, ITS Ingatkan Risiko Lonjakan Harga BBM

6
×

Selat Hormuz Terancam, ITS Ingatkan Risiko Lonjakan Harga BBM

Sebarkan artikel ini
ITS
Renewable Energy Integration Demonstrator of Indonesia (REIDI) sebagai kawasan integrasi energi terbarukan yang dibangun di kampus ITS untuk mendukung ketahanan energi nasional.

BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Ketegangan geopolitik global kembali memantik kekhawatiran baru. Bukan sekadar isu politik internasional, dampaknya kini merembet langsung ke sektor energi. Indonesia, yang masih bertumpu pada impor, berada dalam posisi rawan.

Pakar strategi bisnis Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Dr Ir Arman Hakim Nasution, mengingatkan bahwa situasi ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Konflik berkepanjangan di Timur Tengah, khususnya antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, membuka potensi gangguan pada jalur distribusi energi dunia.

Salah satu titik krusial berada di Selat Hormuz. Jalur ini menjadi urat nadi perdagangan minyak global. Ketika stabilitasnya terganggu, efek domino tak terhindarkan. Harga bahan bakar minyak berpotensi melonjak tajam.

“Ini yang menjadi kekhawatiran global. Gangguan distribusi di jalur strategis akan langsung memukul harga energi,” ujar Arman.

Dosen Departemen Manajemen Bisnis ITS tersebut menekankan, sektor energi tidak berdiri sendiri. Kenaikan harga BBM akan menyeret sektor lain, mulai dari industri plastik hingga pupuk. Rantai ekonomi akan ikut terguncang.

“Ekonomi itu saling terhubung. Ketika energi terganggu, sektor lain pasti ikut terdampak,” tegasnya.

Masalahnya, Indonesia belum sepenuhnya mandiri. Ketergantungan pada energi impor masih tinggi. Sekitar 49,5 persen kebutuhan BBM nasional dipasok dari luar negeri. Untuk LPG, angkanya bahkan mencapai 80 hingga 84 persen.

Kondisi ini menjadi alarm serius. Ketika pasokan global terganggu, stabilitas dalam negeri ikut terancam. Tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga sosial.

Arman menilai, tekanan energi berpotensi memicu gejolak di masyarakat. Lonjakan harga kebutuhan pokok dapat memperbesar beban ekonomi warga. Jika tidak diantisipasi, situasi ini bisa mengganggu ketahanan nasional.

Alumnus Universitas Gadjah Mada tersebut juga menyoroti persoalan mendasar. Menurutnya, Indonesia bukan kekurangan sumber daya energi, melainkan belum optimal dalam pengolahan.

“Sumber daya kita melimpah. Tapi kemampuan pengolahannya belum maksimal, sehingga ketergantungan pada impor masih tinggi,” jelasnya.

Padahal, Indonesia memiliki potensi besar di sektor energi baru dan terbarukan. Salah satunya panas bumi atau geothermal. Indonesia tercatat sebagai salah satu produsen terbesar di dunia.

Potensi ini dinilai belum tergarap maksimal. Arman mendorong percepatan pengembangan teknologi dan investasi untuk mengolah energi domestik.

Selain itu, ia mengusulkan pendekatan berbasis daerah. Setiap wilayah dinilai memiliki karakteristik yang bisa dikembangkan sebagai sumber energi alternatif.

Wilayah dengan paparan sinar matahari tinggi dapat mengoptimalkan energi surya. Sementara daerah peternakan berpeluang mengembangkan biogas dari limbah ternak.

Pendekatan ini dinilai lebih adaptif sekaligus memperkuat ketahanan energi dari level lokal.

Di sisi lain, Arman menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Masyarakat, industri, dan pemerintah harus bergerak bersama.

Masyarakat didorong lebih bijak dalam konsumsi energi. Industri diharapkan terus berinovasi menciptakan efisiensi. Pemerintah, di sisi lain, harus responsif dalam merumuskan kebijakan strategis.

Upaya tersebut sejalan dengan target global dalam Sustainable Development Goals, khususnya poin energi bersih dan terjangkau serta penguatan industri dan inovasi.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60