Pendidikan

Kartini Fashion Day ITS 2026, Kolaborasi Budaya dan Emansipasi di Bundaran Kampus

6
×

Kartini Fashion Day ITS 2026, Kolaborasi Budaya dan Emansipasi di Bundaran Kampus

Sebarkan artikel ini
Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD (kiri) bersama istri memimpin fashion show ITS Kartini Fashion Day 2026 di Bundaran ITS

BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Peringatan Hari Kartini di lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tahun ini berbeda. Untuk kali pertama, ITS menggelar Kartini Fashion Day 2026, parade dan peragaan busana adat Nusantara di area Bundaran ITS, Selasa pagi (21/4/2026).

Kegiatan ini tidak sekadar seremoni. Lebih dari itu, ITS mencoba menghadirkan pendekatan baru dalam merawat ingatan kolektif terhadap perjuangan Raden Ajeng Kartini, dengan mengawinkannya pada ekspresi budaya dan ruang publik.

Rektor ITS Bambang Pramujati menyebut inovasi ini lahir dari kebutuhan menghadirkan peringatan Kartini yang lebih kontekstual.

Selama ini, peringatan cenderung berhenti pada penggunaan pakaian adat tanpa ruang ekspresi yang lebih luas.

“Biasanya hanya memakai pakaian daerah. Sekarang kami kemas dalam bentuk parade dan fashion show di ruang terbuka,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan ini sekaligus menjadi medium untuk mempertegas identitas budaya di tengah lingkungan akademik yang dinamis.

Indonesia, kata dia, memiliki keragaman budaya yang tidak hanya layak diapresiasi, tetapi juga perlu dihidupkan dalam momentum tertentu.

“Memang tidak dipakai setiap hari, tetapi ada momen yang menuntut kita mengenakan pakaian adat sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan dimulai dari pengarahan teknis kepada peserta, termasuk alur peragaan dan indikator penilaian.

Dewan juri menilai kesesuaian busana dengan tema, teknik catwalk, ekspresi, hingga kreativitas peserta dalam membawakan kostum.

Parade Kartini menjadi magnet utama. Peserta berjalan dari Pos 1 Sekuriti ITS menuju Bundaran ITS, menampilkan ragam busana tradisional dari berbagai daerah.

Warna-warni kain dan ragam ornamen menjadi representasi nyata kekayaan budaya Nusantara di ruang terbuka.

Lokasi yang berada di tepi jalan raya dipilih dengan perhitungan matang. Selain mempertimbangkan kelancaran lalu lintas, konsep ini juga diarahkan sebagai bentuk syiar publik.

“Ini bagian dari upaya mengingatkan masyarakat luas tentang pentingnya Hari Kartini dan perjuangan emansipasi perempuan,” jelas Bambang.

Kegiatan yang diinisiasi Unit Komunikasi Publik ITS tersebut melibatkan berbagai elemen kampus.

Mulai dari jajaran pimpinan, dekan, kepala biro, hingga mahasiswa turut ambil bagian.

Dharma Wanita Persatuan ITS juga berperan aktif dalam menyemarakkan acara.

Ketua DWP ITS Galih Kanestri Dewi Pramujati menilai, konsep kegiatan yang lebih atraktif mampu membangun partisipasi kolektif sivitas akademika.

“Perempuan di lingkungan ITS harus menjadi Kartini yang kuat, mandiri, dan memberi manfaat,” ujarnya.

Atmosfer kebersamaan tampak kental sepanjang kegiatan. Interaksi antar peserta, penonton, hingga masyarakat sekitar menciptakan ruang sosial yang cair dan inklusif.

Peragaan busana tidak lagi sekadar estetika, tetapi menjadi medium narasi tentang identitas, peran perempuan, dan keberagaman budaya.

Momentum ini juga selaras dengan agenda pembangunan global. Semangat emansipasi yang diusung Kartini sejalan dengan target Sustainable Development Goals, khususnya poin kesetaraan gender dan pembangunan komunitas berkelanjutan.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60