BERITABANGSA.ID, SURABAYA — Dewan Pimpinan Daerah Generasi Digital Indonesia (Gradasi) Jawa Timur, memberi sinyal kuat kolaborasi lintas sektor dan optimis melakukan digitaliisasi.
Demikian terungkap saat halalbihalal yang dihadiri Ketua DPD Gradasi Jatim, Kusbeni Abdullah, para pemangku kepentingan, perwakilan Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi melalui Kabid Aplikasi Informatika (Aptika), Gugi Alifrianto Wicaksono.
Dalam forum tersebut, arah besar pengembangan Gradasi melalui kolaborasi, perluasan jaringan, dan semangat kolektif saja tidak cukup.
“Arah ke depan sudah mulai terlihat jelas. Tapi yang paling penting adalah menjaga ritme, agar setiap langkah tidak hanya cepat, tapi juga tepat sasaran,” tegas Gugi.
Dukungan dari pemerintah provinsi, khususnya Diskominfo, tidak main-main. Gugi menegaskan pihaknya siap memperkuat publikasi, distribusi informasi, hingga pemanfaatan platform digital untuk mendongkrak eksistensi Gradasi.
“Kami ingin kegiatan Gradasi ini tidak hanya berhenti sebagai seremoni. Harus ada dampak nyata di masyarakat melalui publikasi yang kuat dan strategi digital yang terukur,” ujarnya.
Pernyataan ini sekaligus menjadi “peringatan halus” bahwa organisasi berbasis komunitas digital seperti Gradasi dituntut lebih dari sekadar aktif harus berdampak.
Di era serba digital, optimalisasi media bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Kominfo menilai, sejauh ini pemanfaatan media digital oleh komunitas masih belum maksimal.
“Kalau ingin dikenal luas, maka digital harus jadi panggung utama. Konten, distribusi, dan engagement harus digarap serius,” imbuh Gugi.
Kritik ini menjadi refleksi bahwa banyak gerakan digital yang masih terjebak pada aktivitas internal tanpa mampu menembus ruang publik yang lebih luas.
Sementara itu, Ketua DPD Gradasi Jatim, Kusbeni Abdullah, menegaskan komitmen organisasinya untuk memperluas jaringan kerja sama. Tidak hanya dengan Kominfo dan Dinas Pendidikan, tetapi juga dengan sektor swasta dan komunitas lainnya.
“Kami sadar, tantangan digitalisasi tidak bisa diselesaikan sendiri. Kolaborasi adalah kunci, dan kami membuka ruang seluas-luasnya untuk itu,” ungkap Kusbeni, Senin (20/4/2026).
Namun, perluasan jaringan ini dinilai bukan tanpa risiko. Tanpa manajemen yang solid, kolaborasi justru berpotensi menjadi formalitas tanpa output konkret.
Di tengah pesatnya arus digitalisasi, kebutuhan masyarakat terhadap literasi digital semakin tinggi. Gradasi disebut mengambil posisi strategis sebagai jembatan edukasi.
“Banyak masyarakat yang sudah menggunakan teknologi, tapi belum memahami secara utuh. Di sinilah peran edukasi digital menjadi krusial,” kata salah satu peserta kegiatan.
Fakta di lapangan menunjukkan masih banyak kesenjangan digital, terutama di daerah pinggiran yang belum tersentuh edukasi secara merata.
Forum tersebut juga diwarnai ajakan tegas kepada seluruh anggota Gradasi untuk tidak pasif. Semangat kolektif harus diwujudkan dalam aksi nyata.
“Jangan hanya hadir di acara, tapi minim kontribusi. Organisasi ini butuh energi, ide, dan aksi dari semua anggota,” tegas Kusbeni.
Pernyataan ini mencerminkan dinamika internal organisasi yang menuntut keterlibatan aktif seluruh elemen.
Di akhir forum, satu tujuan besar ditegaskan: menjadikan Gradasi sebagai organisasi yang solid, kreatif, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Namun, pertanyaan kritis muncul apakah semangat ini mampu bertahan di tengah realitas birokrasi, keterbatasan sumber daya, dan tantangan konsistensi?
Dengan dukungan pemerintah secara konkret dan komitmen internal yang menguat, akan membuat Gradasi Jawa Timur di persimpangan. Antara menjadi motor penggerak literasi digital, atau sekadar komunitas yang ramai di awal, redup di tengah jalan.


















