BERITABANGSA.ID, KEDIRI – Dua kecelakaan kerja yang terjadi dalam kurun waktu sepekan di dapur program makan bergizi gratis (MBG) di Desa Watugede, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, memunculkan sorotan terhadap penerapan standar keselamatan kerja.
Insiden pertama terjadi pada Kamis (2/4/2026) dan menyebabkan satu pekerja mengalami luka bakar serius hingga harus dirawat intensif di rumah sakit. Sepekan kemudian, pada Kamis (9/4/2026), kejadian serupa kembali terjadi dan mengakibatkan tiga pekerja lainnya mengalami luka ringan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kedua insiden diduga berkaitan dengan penggunaan alat pemanas makanan (ompreng) berbahan bakar gas yang masih dalam kondisi bertekanan saat dibuka.
Sumber di lapangan menyebut, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan semburan atau ledakan apabila tidak melalui prosedur pengamanan yang tepat.
“Tekanan gas yang masih tinggi seharusnya diturunkan terlebih dahulu. Jika tidak, risiko semburan keras atau bahkan ledakan memang ada,” ujarnya, Rabu (15/4/2026).
Sementara itu, perwakilan mitra dapur SPPG di wilayah Watugede, Titin, membenarkan adanya dua kejadian tersebut. Namun, ia menekankan bahwa peristiwa yang terjadi lebih tepat disebut sebagai semburan uap panas bertekanan, bukan ledakan yang merusak.
“Bukan ledakan yang sampai merusak fasilitas. Lebih ke tekanan uap panas dari ompreng yang cukup kuat,” katanya.
Ia juga menggarisbawahi agar keterangannya tidak diposisikan sebagai pernyataan resmi pihak mitra. Titin diketahui merupakan mantan anggota DPRD Kabupaten Kediri.
Perbedaan penjelasan tersebut menunjukkan perlunya kejelasan informasi berbasis hasil pemeriksaan teknis agar tidak menimbulkan persepsi yang berbeda di masyarakat.
Di luar itu, perhatian juga mengarah pada aspek kesiapan tenaga kerja. Sejumlah pekerja disebut tidak memiliki latar belakang teknis dalam pengoperasian peralatan dapur bertekanan tinggi.
Dalam periode yang sama, dapur tersebut juga diinformasikan melakukan rotasi pekerja secara cukup luas. Sejumlah personel lintas fungsi, termasuk yang sebelumnya tidak berada di dapur, dilibatkan dalam proses produksi.
Kondisi ini dinilai membutuhkan penguatan dari sisi pelatihan dan pengawasan. Tanpa standar pembekalan yang jelas, risiko kerja di lingkungan dengan peralatan berbasis tekanan dinilai semakin tinggi.
Empat korban dalam dua kejadian tersebut diketahui berusia sekitar 30 hingga 35 tahun dan telah berkeluarga.
Meski dua insiden terjadi dalam waktu berdekatan, aktivitas dapur dilaporkan tetap berjalan seperti biasa. Namun, situasi ini memunculkan pertanyaan terkait langkah evaluasi internal, khususnya dalam memastikan keamanan pekerja.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola maupun instansi terkait mengenai hasil penelusuran maupun langkah perbaikan yang telah atau akan dilakukan.
Sejumlah pihak menilai, kejadian berulang ini seharusnya menjadi dasar untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan kerja, termasuk penerapan SOP, pengawasan operasional, serta peningkatan kompetensi tenaga kerja agar risiko serupa dapat ditekan.


















