BERITABANGSA.ID, JOMBANG – Senja di Desa Tunggorono, Kecamatan/Kabupaten Jombang, Selasa (3/3/2026), terasa berbeda. Di teras Gereja Kristen Abdiel Zion Pos PI, kursi-kursi ditata tapi bahkan ada yang melingkar di tempat makan.
Yang duduk bukan hanya jemaat gereja, tetapi juga puluhan warga muslim di sekitar lingkungan tersebut. Tak ada sekat, tak ada jarak. Hanya obrolan ringan dan senyum yang saling bersahutan.
Di atas meja panjang, hidangan berbuka tersaji rapi. Sate, ayam, sayur, kolak, buah-buahan hingga minuman dingin disiapkan untuk disantap bersama. Sore itu, gereja menggelar buka puasa bersama warga muslim sekitar dalam balutan diskusi bertema “Merajut Persaudaraan, Bersatu dalam Kepedulian, Solidaritas untuk Indonesia Bangkit.”
Kegiatan sederhana itu menjadi potret kecil toleransi di Kota Santri. Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Timur, Wiwin Sumrambah, yang hadir dalam kegiatan tersebut, mengaku terkesan dengan suasana kebersamaan yang ia saksikan langsung.
“Di lingkungan perumahan tengah kota seperti ini, toleransi antarumat beragama terasa luar biasa. Dari awal sampai selesai suasananya sangat elok dipandang dan sejuk dirasakan,” ujarnya.
Menurutnya, kampung di sekitar gereja layak menjadi contoh praktik kerukunan antarumat beragama. Ia berharap semangat seperti itu tak berhenti pada seremoni tahunan, melainkan menjadi budaya hidup sehari-hari.
“Di tempat yang sama kita makan bersama, meski ibadahnya berbeda. Ada yang menjalankan Ramadan, ada pula yang bersiap menyambut Paskah. Semoga kerukunan seperti ini terus dijaga dan diwujudkan dalam gotong royong ketika ada yang membutuhkan,” katanya.
Di tengah riuhnya perbincangan soal perbedaan di ruang publik, suasana di teras gereja Tunggorono itu justru menghadirkan pesan yang sederhana namun kuat. Seperti yang disebutkan Wiwin Sumrambah, yakni toleransi tak selalu membutuhkan panggung besar.
“Cukup meja makan panjang, niat tulus, dan hati yang terbuka. Itu sudah cukup untuk menjaga kerukunan,” tandasnya.
Menjelang Maghrib, suasana semakin khidmat. Warga lintas agama mengabadikan momen bersama tanpa canggung. Ketika azan berkumandang, doa dipanjatkan, kurma dan air putih disantap, disusul hidangan utama. Di ruangan yang dindingnya dihiasi simbol salib, umat muslim dan jemaat gereja duduk berdampingan menikmati santap malam.
Penginjil sekaligus gembala gereja setempat, Suyanto, mengatakan kegiatan buka bersama tersebut bukan hal baru. Agenda itu rutin digelar setiap Ramadan sebagai upaya merawat persaudaraan.
“Tujuan kami sederhana, supaya persaudaraan dan kegotongroyongan semakin melekat seperti saudara sendiri. Saling mendukung dan saling menghormati,” ujarnya.
Ia menambahkan, kehangatan yang sama juga terasa saat perayaan hari besar keagamaan lainnya. Ketika Lebaran, jemaat gereja bersilaturahmi ke rumah warga muslim. Sebaliknya, saat Natal, warga muslim turut hadir memberi dukungan.
“Bagi kami, toleransi bukan sekadar slogan. Ia hidup dalam kebiasaan saling menyapa, saling membantu, dan duduk bersama di satu meja makan, meski doa yang dipanjatkan berbeda,” ungkap Suyanto memungkasi.


















