BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Universitas Surabaya atau Ubaya mengukuhkan 10 guru besar baru dalam rapat senat terbuka yang digelar Selasa, (3/3/2026), di Lantai 5 Gedung
Perpustakaan Kampus Ubaya Tenggilis.
Pengukuhan tersebut menjadi momentum akademik penting menjelang peringatan hari jadi Ubaya ke-58 pada 11 Maret besok.
Dari Fakultas Hukum, Go Lisanawati, dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Hukum Anti Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme.
Dalam orasi ilmiahnya bertajuk Kolaborasi Hukum Pembawaan Uang Tunai dan Pengaturan Pembatasan Transaksi Tunai (Uang Kartal) dalam Rangka Penguatan Rezim Anti Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme, ia menyoroti pentingnya harmonisasi regulasi untuk memperkuat rezim pencegahan kejahatan keuangan.
Dari Fakultas Farmasi, 4 akademisi menerima gelar profesor, yakni Oeke Yunita, dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Karakterisasi Herbal melalui orasi Evolusi Pendekatan Karakterisasi Herbal Berbasis Sains: dari Teknologi Omik menuju Artificial Intelligence.
Ia memaparkan transformasi metode analisis herbal berbasis pendekatan omik hingga pemanfaatan kecerdasan buatan.
Amelia Lorensia, dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Farmasi Klinis Komunitas Penyakit Pernafasan.
Orasinya berjudul Peluang Uji Klinis Terapi Asma Baru: Membuka Jalan Menuju Perawatan yang Lebih Efektif dan Personalisasi, menekankan urgensi terapi asma yang lebih presisi berbasis kebutuhan pasien.
Sementara itu, Rika Yulia, menjadi Guru Besar dalam Bidang Biomedis Klinis. Lewat orasi Dari Terapi Andalan Menjadi Ancaman: Dominasi Antibiotik dan Resistensi dalam Biomedis Klinis, ia mengingatkan bahaya resistensi antibiotik yang kian menguat dalam praktik klinis.
Sedangkan, Kartini, dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Teknologi Fitofarmasi. Dalam orasi Chemical Marker sebagai Pilar Standardisasi Pengembangan Fitofarmaka Indonesia, ia menekankan pentingnya penanda kimia sebagai fondasi standardisasi produk fitofarmaka nasional.
Dari Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Felizia Arni Rudiawarni, dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Market-based Accounting Research.
Orasinya berjudul The Rise of Invisible Wealth: The Bittersweet Reality of R&D and Intangible Assets membedah peran aset tak berwujud dan riset-pengembangan dalam pembentukan nilai perusahaan modern.
Untuk Werner R Murhadi, juga menerima gelar Guru Besar dalam Bidang Manajemen Keuangan dan Investasi.
Melalui orasi Pengelolaan Keuangan dan Investasi untuk Keberlanjutan Perguruan Tinggi, ia membahas tata kelola finansial institusi pendidikan tinggi agar berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi.
Dari Fakultas Teknik, Joko Siswantoro, dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Pembelajaran Mesin. Dalam orasi Dari Perilaku Serigala ke Kecerdasan Mesin: Peran Grey Wolf Optimizer dalam Pembelajaran Mesin Modern, ia menjelaskan pemanfaatan algoritma metaheuristik dalam pengembangan machine learning.
Sementara itu, Lisana, menjadi Guru Besar dalam Bidang Technology Adoption in Education. Orasinya Generative Artificial Intelligence dalam Pendidikan Tinggi: Peluang, Tantangan, dan Strategi Menuju Intelligent University membahas integrasi AI generatif dalam transformasi kampus menuju universitas cerdas.
Dari Fakultas Teknobiologi, Sulistyo Emantoko Dwi Putra, dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Bioteknologi. Orasi ilmiahnya bertajuk Membaca Risiko Sebelum Sakit: Metilasi DNA sebagai Biomarker Prediktif mengulas potensi metilasi DNA sebagai alat deteksi dini risiko penyakit.
Rektor Ubaya, Benny Lianto, menyebut pengukuhan 10 guru besar ini sebagai hadiah istimewa menjelang peringatan ulang tahun institusi.
“Dengan semakin banyaknya guru besar, kapasitas kepemimpinan ilmiah, kolaborasi riset, serta hilirisasi inovasi akan semakin kuat. Kami berharap kehadiran mereka mendorong lahirnya penelitian unggul, kolaborasi industri yang lebih luas, serta solusi inovatif yang berdampak bagi bangsa,” ujarnya.
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah VII, Dyah Sawitri, berharap para profesor yang dikukuhkan mampu menjalankan peran sebagai agen perubahan.
Ia menekankan pentingnya komitmen pada nilai multikultur yang menjadi kekuatan Ubaya serta peningkatan daya saing riset dan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Dengan penambahan tersebut, jumlah profesor aktif yang mengajar di Ubaya kini genap 36 orang.


















